Thursday, 24 August 2017

Pria Miskin ‘Lebih Cenderung Melajang’

Sabtu, 12 Agustus 2017 — 7:14 WIB
Selisih pendapatan pria dari keluarga yang kurang mampu dengan yang berkecukupan melebar, kata Institut Studi Fiskal.

Selisih pendapatan pria dari keluarga yang kurang mampu dengan yang berkecukupan melebar, kata Institut Studi Fiskal.

PRIA dari kondisi ekonomi kurang mampu dua kali lebih cenderung menjadi lajang di usia 40-an awal daripada mereka yang berasal dari keluarga kaya, demikian hasil penelitian baru.

Institut untuk Studi Fiskal (IFS) menemukan bahwa kelompok ini cenderung berpenghasilan lebih sedikit dan menikahi perempuan dengan pendapatan rendah.

Akibatnya, menurut IFS, kemiskinan akan berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya dan mengurangi mobilitas sosial.

Pemerintah mengatakan ingin “membangun ekonomi yang bekerja untuk semua orang”.

Untuk mengatasi keadaan ini, Perdana Menteri Inggris Theresa May telah berjanji untuk berbuat lebih banyak untuk keluarga “pas-pasan”.

Dia mengatakan bahwa sangat penting untuk mengatasi harapan hidup yang lebih pendek bagi orang-orang yang terlahir miskin. May juga bakal mengupayakan anak-anak kelas pekerja kulit putih menempuh studi hingga jenjang universitas.

Namun, dalam kenyataannya, dengan kenaikan harga melebihi upah sejak voting Brexit, banyak pekerja semakin miskin secara rata-rata.

Selain itu, rata-rata upah riil di Inggris masih lebih rendah daripada sebelum krisis keuangan 10 tahun yang lalu.

‘Ketidaksetaraan yang melebar’

IFS menemukan bahwa lebih dari sepertiga pria berusia 42 tahun dari seperlima keluarga termiskin, tidak tinggal dengan seorang pasangan pada 2012. Jika dibandingkan dengan pria usia sama dari kelompok berpenghasilan tinggi, jumlahnya hanya sepertujuh.

Selanjutnya, orang-orang berpenghasilan rendah lebih sedikit yang menikah dan kalaupun menikah, tingkat perceraiannya lebih tinggi.

Peneliti juga melihat pasangan dari masing-masing pria. Mereka menemukan bahwa pasangan pria berlatar belakang kaya menghasilkan 70% lebih banyak daripada pasangan pria dari keluarga miskin.

Chris Belfield, ekonom riset di IFS, mengatakan: “Selain memiliki pendapatan lebih tinggi, keluarga kaya akan lebih cenderung mempunyai pekerjaan, lebih cenderung memiliki pasangan, dan cenderung memiliki pasangan berpenghasilan lebih tinggi daripada mereka yang dari latar belakang berkekurangan.

“Dan semua ketidaksetaraan ini terus melebar dari waktu ke waktu.”

‘Terlepas dari latar belakang’

IFS mengatakan “sudah menjadi pengetahuan umum” bahwa anak-anak dari orang tua yang lebih kaya cenderung mendapatkan penghasilan yang lebih banyak lagi.

Bahkan, kesenjangan pendapatan dengan mereka yang berlatar belakang yang kurang berkecukupan semakin melebar.

Pada tahun 2012, pria bekerja berusia 42 tahun yang orang tuanya termasuk di antara seperlima rumah tangga terkaya mendapat rata-rata 88% lebih banyak daripada mereka yang berasal dari keluarga termiskin. Pada 2000 angkanya hanya 47%. (BBC)