Monday, 21 August 2017

Jika Kemarau, Warga Pulau Untung Jawa Kurangi Mandi

Minggu, 13 Agustus 2017 — 11:57 WIB
Lurah Pulau Untung Jawa, Ade Slamet.(ikbal)

Lurah Pulau Untung Jawa, Ade Slamet.(ikbal)

JAKARTA (Pos Kota) – Akses warga kepulauan terhadap akses air bersih dan layak minum, termasuk di Kepulauan Seribu masih terbatas. Jika musim kemarau datang, warga harus lebih berhemat air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Jika kemarau tiba, air tanah sebagai sumber bersih menjadi asin.

Lurah Pulau Untung Jawa, Ade Slamet mengatakan warga harus mengurangi aktivitas yang mengurangi aktivitas yang menggunakaan air bersih.

“Ketika langka air, musim kemarau, airnya asin. Di sini juga kalau mandi, kita lengket. Apalagi kalau gosok gigi. Saya gosok gigi pakai air kemasan. Kecuali mandi pakai air sumur, kalau biasa mandi sehari dua kali ya dikurangi sekali saja,” ujar Ade di kantornya, Minggu (13/8/2017)

Untuk kebutuhan air minum saat kemarau, warga kepulauan harus membeli air galon dari pulau dengan harga yang lebih mahal dari harga normal. Warga terpaksa merogoh koceknya lebih dalam untuk membeli untuk kebutuhan air konsumsi.

“Untuk beli air mineral di Tanjung Pasir, biaya lebih mahal. Kalau (misal) di Depok, harga air Rp15 ribu per galon, di sini bisa Rp25 ribu . Sangat tinggi bedanya,” tambah Ade.

Saat ini warga Kepulauan Seribu memiliki dua sumber air bersih dan layak konsumsi yakni air olahan Backrish Water Reverse Osomosis (BWRO) dan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO). BWRO merupakan pengolahan air tanah untuk dapat dijadikan air minum, sedangkan SWRO mengambil air laut untuk diolah sebagai air minum.

(ikbal/sir)