Tuesday, 21 November 2017

CATURMURTI

Senin, 14 Agustus 2017 — 6:08 WIB

Oleh H. Harmoko

BANYAK hal terjadi di negeri kita, silih berganti dari satu persoalan ke persoalan lain namun tak banyak yang bisa dituntaskan. Mengapa? Sangat mungkin hal itu terjadi karena kita salah melakukan pendekatan.

Salah melakukan pendekatan, bisa jadi salah pula mencari solusi. Kita kerap melihat persoalan hanya dari sisi materiel, mengabaikan yang nonmateriel terkait dengan nilai-nilai spiritual bangsa kita.

Pendekatan materiel, banyak orang mengingatkan, sejatinya berangkat dari nilai-nilai Barat yang memang dikenal materialistis. Tentu, ini tak sejalan dengan nilai-nilai bangsa kita sebagaimana yang terkandung pada Pancasila, rumusan nilai-nilai warisan leluhur bangsa Indonesia.

Warisan leluhur itulah yang seharusnya kita jadikan acuan dalam menjalani hidup, entah sebagai rakyat biasa, pengusaha, cendekiawan, pemimpin, atau apa pun. Kini saatnya kita tengok kembali ajaran moral warisan leluhur itu.

Saatnya ajaran leluhur itu kita kaji lebih dalam, sehingga kita memperoleh pemahaman yang benar tentang cara mengatur keseimbangan antara fisik, mental, dan spiritual dalam kehidupan kita.

Ajaran itu bersumber dari kearifan lokal Nusantara. Sebut, misalnya, konsep Caturmukti yang diajarkan oleh Sosrokartono, yakni konsep kesatuan antara rasa, cipta, karsa, dan karya.

Kita sebenarnya kerap mengutip bagian dari Caturmurti yang terkenal itu, misalnya:

_”sugih tanpa bandha_

_digdaya tanpa aji_

_nglurug tanpa bala_

_menang tanpa ngasorake”_
(kaya tidak perlu berharta
sakti tanpa jimat
menyerbu tanpa pasukan
menang tanpa merendahkan)

_”trimah mawi pasrah_
_suwung pamrih tebih ajrih_
_langgeng tanpa susah_
_tan ana bungah”_
(menerima dengan pasrah
sepi dari rasa pamrih, tidak ada rasa takut
hidup tanpa ada rasa susah
tak perlu pula bergembira ria)
_”anteng manteng_
_sugeng jeneng_
_durung unggul yen ora wani asor_
_durung gedhe yen ora wani cilik”_
(tenang menghadapi masalah
tak akan menang bila belum berani kalah
tak akan jadi besar bila belum berani menjadi kecil)

Semuanya itu dalam kerangka menjadikan kita bisa hidup tenang dan selalu bersyukur, tidak macam-macam hanya untuk mengejar sesuatu yang bersifat materiel dengan segala cara. Saatnya kita kembali menjadi bangsa Indonesia. Gunakanlah konsep Caturmurti: rasa, cipta, karsa, dan karya. ( * )