Tuesday, 11 December 2018

Soal Katering Basi, Ini Temuan Sidak Petugas Haji

Selasa, 15 Agustus 2017 — 9:39 WIB
Tim Katering Daker Madinah sidak dapur penyedia katering jemaah haji Indonesia. (mch/kemenag)

Tim Katering Daker Madinah sidak dapur penyedia katering jemaah haji Indonesia. (mch/kemenag)

MADINAH – Persoalan katering basi di Madinah menjadi pelajaran berharga bagi petugas. Selain respon cepat memberikan teguran keras kepada perusahaan penyedia layanan katering, petugas juga mengintensifkan pengawasan.

Didampingi Pengawas Katering Madinah, Irfansyah (Irfan), Kepala Seksi Katering Daker Madinah Iin Kurniawati (Iin) menegaskan, pihaknya telah mengintensifkan pengawasan dengan lebih sering sidak langsung ke dapur katering. Sidak (inspeksi mendadak) dilakukan untuk memastikan pihak perusahaan melakukan perbaikan sesuai ketentuan.

Dari hasil sidak yang dilakukan, Iin mengaku sudah ada perbaikan yang dilakukan. Dapur Bahar Harr misalnya, sekarang sudah lebih bersih dari sebelumnya. Namun, Iin masih menemukan alat memasak yang belum maksimal.

“Kita menginginkan ada perbaikan, misalnya penggorengan yang lebih besar. Dan mereka menyanggupi untuk mengganti alat tersebut dengan kapasitas yang lebih besar,” ungkapnya saat meninjau dapur Bahar Harr.

(Baca:  KJRI Jeddah Imbau Jemaah Waspadai Calo)

Soal katering basi, Pengawas Katering Irfan menjelaskan, bahwa itu bermula dari keterlambatan dalam proses memasak karena ketiduran. Akibatnya, masaknya menjadi terburu-buru.

“Makanan dari hasil memasak (dalam kondisi panas), mereka langsung masukkan ke dalam boks dan langsung ditutup. Itulah yang menyebabkan basi,” terang Irfan yang juga Dosen Sekolah Tinggi Pariwisata NHI Bandung.

Pemilik katering Bahar Harr Usman Bin Rasyid yang turut hadir menyatakan bahwa pihaknya terbuka menerima masukan, dan akan menindaklanjutinya. Dia berjanji akan memperbaiki di waktu-waktu mendatang. “Termasuk perluasan area dapur untuk Indonesia,” terangnya.

Diberitakan sebelumnya, Bahar Harr adalah perusahaan katering yang mendapat teguran tertulis karena menyediakan makanan basi dan kurang takaran porsi (gramasi). Perusahaan ini melayani sekitar 12ribu porsi dan baru pertama kali melayani katering jemaah haji Indonesia.

(kemenag/sir)