Tuesday, 14 August 2018

KPK Perpanjang Penahanan Gubernur Bengkulu dan Isteri

Rabu, 16 Agustus 2017 — 20:01 WIB
kpk

JAKARTA (Pos Kota) – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperpanjang masa penahanan Gubernur Bengkulu nonaktif, Ridwan Mukti dan istri, Lily Martiani Maddari. Keduanya terjerat kasus suap proyek di Pemprov Bengkulu tahun anggaran 2017.

Tak hanya kepada sepasang suami istri itu, perpanjangan masa penahanan pun diberikan terhadap pengusaha sekaligus Bendahara DPD Partai Golkar Bengkulu, Rico Dian Sari yang ikut menjadi tersangka kasus tersebut.

“Penyidik hari ini melakukan perpanjangan masa tahanan selama 30 hari mulai 19 Agustus hingga 18 September 2017 terhadap 3 tersangka penerima suap dalam tindak pidana korupsi suap terkait proyek-proyek di lingkungan Pemprov Bengkulu TA 2017,” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, Rabu(16/8/2017).

Sementara, masih terkait kasus tersebut, penyidik KPK merampungkan berkas pemeriksaan tersangka pemberi suap, yakni Jhony Wijaya. Dengan demikian berkas perkara Direktur PT Statika Mitra Sarana(SMS) itu dilimpahkan ke tahap 2 dari penyidik kepada penuntut umum dan segera diadili.

Jhony pun segera diterbangkan ke Bengkulu demi menjalani proses di Pengadilan Tipikor Bengkulu. “Yang bersangkutan hari ini diberangkatkan ke Bengkulu untuk dititipkan penahanan di Rutan Klas IIA Bengkulu menunggu persidangan yang rencanya akan digelar di PN Tipikor Bengkulu,” imbuh Febri.

Dalam kasus ini, Ridwan, Lily dan Rico diduga sebagai penerima suap disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 jo. Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Sedangkan Jhoni sebagai pihak pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 jo. Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. (julian/us)