Saturday, 23 September 2017

Penggerogot Jembatan

Sabtu, 19 Agustus 2017 — 7:40 WIB
dulkarungggi

Oleh S Saiful Rahim
“ALHAMDULILLAH,” kata Dul Karung sambil menarik nafas panjang dan pelan-pelan duduk di bagian yang kosong dari bangku panjang. Lalu, seperti biasa, tangannya mencomot sepotong singkong goreng yang masih kebul-kebul dan langsung mencaploknya.

“Tampaknya hari ini kau senang dan berbahagia sekali, Dul,” komentar orang yang duduk di kanan Dul Karung. Semula dia duduk di dekat pintu masuk, tetapi ketika Dul Karung masuk orang itu bergeser memberikan tempat duduk untuk Dul Karung.

“Bukankah sudah sepatutnya kita bersyukur. Tiga hari yang lalu negeri kita genap 72 tahun merdeka, tapi masih begini-begini saja. Tujuh puluh dua tahun sudah kita merdeka, tapi kau masih berutang di mana-mana. Masih tinggal di rumah peninggalan orangtua. Untung kau tidak punya istri dan anak. Andaikata punya istri dan anak dengan apa kau akan beri makan mereka, Dul?” sambar orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang sebelum Dul Karung selesai bicara.

“Sabar,” kata Dul Karung, tapi kembali sebelum kalimat Dul Karung selesai orang itu menyerobot lagi.

“Apa menanti selama 72 tahun itu bukan suatu kesabaran?” kata orang itu lagi dengan nada tambah tinggi.

“Saudara harus ingat! Bung Karno, satu dari dua proklamator kemerdekaan negeri ini pernah berkata, kemerdekaan bukanlah tujuan akhir perjuangan. Kemerdekaan hanyalah jembatan emas menuju ke tujuan perjuangan, yaitu kemakmuran untuk rakyat. Untuk semua bangsa Indonesia secara merata,” kata orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang, mencoba menjelaskan dengan tenang . Bahkan sambil tersenyum.

“Betul itu,” sambung orang yang duduk tepat di depan Mas Wargo. “Kalau kata orang cerdik pandai, kita sekarang baru mencapai ‘merdeka dari’, dan harus mencapai ‘merdeka untuk’.Artinya kita kini baru merdeka dari penjajahan. Dari cengkeraman bangsa asing. Dan harus menuju kepada ‘merdeka untuk’. Yaitu merdeka untuk mengatur negeri sendiri dan menyejahterakan bangsa dengan daya upaya dan kekuatan sendiri,” tambah orang yang duduk di depan Mas Wargo lagi.

“Wah, masih berapa lama lagi kita bisa sampai ke sana? Ke “merdeka untuk’ itu? Padahal walaupun telah mencapai ‘merdeka untuk’ tidak berarti semuanya serba gampang. Iya kan?” kata entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Repotnya sekarang ini, ketika kita baru saja sampai di jembatan emas, sudah banyak yang tidak bisa lagi menahan nafsu. Jembatan emasnya itu digerogoti entah dengan cara yang disebut korupsi, atau seribu satu cara lain yang dilakukan oleh orang yang dulu sama-sama berjuang dari kubangan lumpur darah sampai ke jembatan emas itu,” kata orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang lagi.

“Kalau kondisi sudah menjadi runyam seperti ini, banyak yang menggerogoti jembatan emas, menurut Mas Wargo bagaimana jalan keluarnya?” tanya Dul Karung yang tampaknya asal sekadar bertanya saja.

“Waduh gak tahu aku? Ini bukan obrolan kelas warung kopi. Aku mikir harga garam belum stabil saja sudah bingung. Sebab walaupun sedikit, ubi goreng harus pakai garam,” jawab Mas Wargo membuat semua pendengarnya mesem.

Dul Karung sambil melangkah pergi berkata, “Bersyukur dululah kita sudah 72 tahun merdeka. Sebentar lagi kan ada pemilu, siapa tahu sekali ini semua yang terpilih adalah orang-orang baik. Bukan kelas penggerogot jembatan.”

Koor suara, “Huuuu, ” panjang hadirin pun mengiringi kepergian Dul Karung. (syahsr@gmail.com )*