Tuesday, 21 November 2017

PATUNG KWAN KONG

Senin, 21 Agustus 2017 — 6:17 WIB

Oleh H. Harmoko

NAMA panjangnya Kongco Kwan Sing Tee Koen. Nama aslinya Guan Yu, dikenal juga sebagai Kwan Kong, Guan Gong, atau Kwan Ie. Bisa jadi karena sosok ini dikenal juga sebagai jenderal perang, pembuatan patung raksasanya di Tuban menimbulkan kontroversi.

Nama Kwan Kong (160 – 219) mulai harum di seluruh dataran Tiongkok setelah berhasil mengalahkan pasukan Kekaisaran Wei di bawah pimpinan Raja Cao Cao. Tetapi, ada pendapat lain, Kwan Kong bukanlah jenderal perang, melainkan Dewa Keadilan.

Kontroversi menjadi melebar ketika sosok itu dibuatkan patungnya di Tuban, kota di Jawa Timur yang pelabuhannya pernah dipakai pendaratan oleh pasukan Cina-Mongol untuk menguasai tanah Jawa, tahun 1293. Upaya penaklukan gagal, mengapa justru patung yang melambangkan kejumawaan itu dibangun di situ dalam ukuran raksasa?

Bagi kita yang pernah membaca catatan sejarah tentu paham, tentara Cina-Mongol pada masanya, era Dinasti Yuan, selalu membawa patung Kwan Kong ke kawasan yang hendak ditaklukan. Begitu menang, mereka pun mendirikan kuil untuk meletakkan patung itu, sebagai ekspresi rasa syukurnya.

Begitu juga saat menyerang Jepang, Jawa, dan Vietnam, mereka membawa patung Kwan Kong. Karena gagal menaklukkan tiga kawasan itu, mereka tidak bisa mendirikan kuil untuk meletakkan patung tersebut.

Di Jepang, mereka digagalkan oleh topan Kamikaze. Di Vietnam, mereka ditaklukkan oleh Jendral Tran Hung Dao. Di Jawa, tepatnya di Tuban, mereka lintang pukang dihajar oleh Raden Wijaya dan Ronggolawe.

Jadi, ketika ada pendirian patung Kwan Kong di Tuban, bisa dipahami kalau kemudian banyak pihak mempersoalkannya. Alasan bahwa pendirian patung itu semata-mata hanya untuk kepentingan peribadatan sekaligus untuk tujuan pariwisata tidaklah cukup untuk meredam protes. Mengapa?

Mungkin kita bisa tengok ke Jepang dan Vietnam. Jepang mengabadikan kamikaze sebagai ungkapan syukur atas peristiwa alam yang melindungi mereka dari serangan Cina-Mongol. Demikian halnya Vietnam, mereka membuat patung Tran Hung Dao dengan tangan menunjuk ke bawah dan dagu tegak menghadap ke daratan Cina.

Mengapa di Tuban malah dibiarkan ada patung Kwan Kong? Mengapa bukan patung Ronggolawe? Karena terjadi kebutaan sejarah? Ingat, patung bukan sekadar benda mati. Di sana ada pesan kultural untuk membangun semangat kejuangan bahwa kita bukan bangsa pecundang.
Oleh karena itu, pemerintah seharusnyalah memahami suasana batin yang sedang dialami oleh mereka yang mempersoalkan patung Kwan Kong ini. Mari jaga persatuan dengan tetap memelihara semangat juang demi harkat dan martabat bangsa. ( * )