Sunday, 15 September 2019

Terkait Suap Penitera PN Jaksel, Dirut PT ADI jadi Tersangka

Selasa, 22 Agustus 2017 — 23:21 WIB
Direktur Utama PT Aquamarine Divindo Inspection (ADI), Yunus Nafik ketika tiba di kantor KPK

Direktur Utama PT Aquamarine Divindo Inspection (ADI), Yunus Nafik ketika tiba di kantor KPK

JAKARTA (Pos Kota) – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Direktur Utama PT Aquamarine Divindo Inspection (ADI), Yunus Nafik (YN), sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait pengamanan perkara perdata perusahaannya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

“Saya dapat informasi telah ditemukan dua alat bukti permulaan yang cukup, sehingga ada satu orang lagi yang sudah jadi tersangka. Satu orang tambahan adalah YN, Dirut PT ADI,” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, Selasa (22/8/2017) malam.

Yunus telah dibawa ke Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Setiabudi, Jaksel. Penyidik menggelandangnya masuk bersama General Manager PT ADI, Rachmadi Permana, ke ruang pemeriksaan sejak pukul 20:25 WIB. “Saat ini mereka masih proses pemeriksaan,” ujar Febri.

Disinggung apa peran Yunus dalam kasus tersebut, Febri masih enggan menjelaskannya secara rinci. Hanya saja, menurutnya, lembaga antirasuah menduga Yunus memiliki keterkaitan dengan kuasa hukum PT ADI, Akhmad Zaini (AKZ), dan panitera pengganti PN Jaksel, Tarmizi (TMZ). Dua orang terakhir yang disebutkan ini telah lebih dulu dijadikan tersangka.

“Ya seperti yang tadi disampaikan juga, ada indikasi pemberian sejumlah uang dari kuasa hukum pihak PT ADI ke Panitera PN Jaksel, nah kami sudah temukan bukti permulaan yang cukup ada indikasi keterkaitan dengan tersangka AKZ dengan orang-orang tertentu di PT ADI, sehingga kami lakukan pendalaman lebih lanjut. Jadi sebagai pihak yang diduga bersama-sama memberikan hadiah atau janji,” kata Febri.

Demikian pula alasan membawa GM PT ADI ke KPK. Yakni untuk diperiksa karena diduga berkaitan dengan kasus tersebut.

“Kami sudah temukaan indikasi kuat dan bukti yang cukup ada keterkaitan peristiwa pemberian hadiah atau janji di PN Jaksel kemarin dengan pihak-pihak di PT ADI. Kami lakukan pemeriksaan dan bawa dua orang ke kantor KPK malam ini,” imbuhnya.

Seperti diketahui, KPK melakukan OTT di lingkungan PN Jaksel, Jalan Ampera Raya, Ragunan, Pasar Minggu, Jaksel, Senin (21/8/2017), dan menangkap Tarmizi.

Selain Tarmizi, penyidik juga menangkap empat orang lainnya: pegawai honorer PN Jaksel, TJ (dalam berita sebelumnya disebut TD); dua pengacara PT Aquamarine Divindo Inspection (PT ADI) yakni Akhmad Zaini dan FJG; serta S, sopir rental yang disewa Zaini.
Setelah melakukan pemeriksaan secara intensif dan gelar perkara, KPK kemudian menetapkan status tersangka terhadap Tarmizi dan Zaini. Sementara, tiga orang lainnya hanya ditetapkan sebagai saksi.
Tarmizi diduga menerima suap sebesar Rp425 juta dari Zaini. Suap tersebut berkaitan dengan gugatan perkara Eastern Jason Fabrication Services Pte Ltd kepada PT ADI.
PT ADI digugat oleh Eastern Jason ke PN Jaksel karena dianggap cedera janji alias wanprestasi dalam pengerjaan sebuah proyek. Dalam gugatannya, Eastern Jason meminta PT ADI mengganti kerugian sebesar 7 juta dolar Amerika Serikat dan 131 ribu dolar Singapura.

Dugaan awal, suap yang diterima Tarmizi dari Akhmad itu untuk mematahkan gugatan Eastern Jason. (julian)