Wednesday, 20 September 2017

Dinihari Tadi, KPK Jebloskan Panitera dan Penyuap ke Tahanan

Rabu, 23 Agustus 2017 — 10:17 WIB
Direktur Utama PT Aquamarine Divindo Inspection (ADI), Yunus Nafik ketika tiba di kantor KPK

Direktur Utama PT Aquamarine Divindo Inspection (ADI), Yunus Nafik ketika tiba di kantor KPK

JAKARTA (Pos Kota) – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan Panitera Pengganti Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Tarmizi, di Rumah Tahanan (Rutan) Pomdam Jaya Guntur, Setiabudi, Jakarta Selatan.

Dia dijebloskan ke tahanan usai ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait pengamanan perkara yang melibatkan PT Aquamarine Divindo Inspection (ADI), dan menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Setiabudi, Jaksel, Rabu (23/8/2017) dinihari.

KPK juga menahan Direktur Utama PT ADI, Yunus Nafik, dan kuasa hukum PT ADI, Akhmad Zaini. Kedua orang yang juga baru ditetapkan tersangka dalam kasus tersebut masing-masing dititipkan penahanannya di Rutan Mapolres Metro Jakarta Pusat, dan Rutan Mapolres Metro Jakarta Timur.

“Para tersangka akan menjalani masa tahanan setidaknya selama 20 hari ke depan untuk kepentingan penyidikan,” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, Rabu (23/8/2017) pagi.

(Baca: Terkait Suap Penitera PN Jaksel, Dirut PT ADI jadi Tersangka)

 

Kasus ini terbongkar lewat operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan tim penyidik KPK di lingkungan PN Jaksel, Senin (21/8/2017). Dalam OTT itu awalnya penyidik mengamankan lima orang, termasuk Tarmizi, dan Zaini. Selain itu juga menyegel lemari kerja dan mobil pribadi milik Tarmizi.

Keduanya langsung ditetapkan sebagai tersangka usai digelar perkara dan diperiksa secara intensif.

Selang satu hari kemudian, penyidik pun menggeledah kantor PT ADI di Surabaya, Jawa Timur, dan menjemput Dirut PT ADI Yunus Nafik, di kota yang sama. Ia kemudian digelandang ke Gedung Merah Putih KPK, di Setiabudi, Jaksel, sebelum akhirnya ditetapkan sebagai tersangka dan dibui.

Yunus diduga turut bersama Zaini memberikan suap kepada Tarmizi sebesar Rp425 juta. Suap ini diduga diberikan agar PN Jaksel menolak gugatan perdata yang diajukan Eastern Jason Fabrication Services Pte Ltd terhadap PT ADI yang dinilai wanprestasi atau cedera janji dalam pengerjaan sebuah proyek. Eastern Jason menggugat PT ADI yang bergerak di bidang konstruksi dan survei bawah laut untuk membayar ganti rugi sebesar 7,6 juta dolar AS dan 131 ribu dolar Singapura .

Lembaga antirasuah pun mengklaim telah mengantongi bukti yang cukup adanya keterlibatan Yunus dalam kasus suap ini. Diduga, Yunus sebagai pihak penyandang dana suap yang diberikan Zaini kepada Tarmizi. Saat ini, KPK masih mendalami sumber uang suap tersebut berasal dari perusahaan atau kantong pribadi Yunus.
“Secara spesifik kami belum bisa sampaikan uang Rp425 juta itu dari siapa, tapi kami sudah menemukan bukti ada peran dari Dirut PT ADI ini dan juga peran salah satu kuasa hukumnya dan pihak penerima,” imbuh Febri.
(julian/sir)