Tuesday, 21 November 2017

BENDERA TERBALIK

Kamis, 24 Agustus 2017 — 6:18 WIB

Oleh H. Harmoko

KASUS bendera Indonesia terbalik pada pesta olah raga Asia Tenggara, SEA Games, cukup mengusik kemartaban bangsa kita. Sebuah kecerobohan yang tak perlu terjadi. Atau ada agenda lain di balik kasus ini?

Bisa saja memang kecerobohan. Anggap saja begitu. Kesiĺapan, kata Menpora Malaysia, Khairy Jamaluddin. Pemerintah Malaysia wajib minta maaf dan itu sudah diĺakukan. Normatifnya memang begitu. Tetapi, secara praksis diplomatik ada hal di luar normatif yang tak bisa kita abaikan kalau kita ingin tetap menjaga kebersamaan sebagai sesama negara ASEAN.

Kita ingat betul ketika SEA Games dicetuskan oleh Laung Sukhumnaipradit, saat itu Wakil Presiden Komite Olimpiade Thailand, dan pertama kali digelar di Bangkok, 1959, tujuannya sangat mulia: untuk mengeratkan kerjasama, pemahaman, dan hubungan antarnegara di kawasan Asia Tenggara.

Itulah sebabnya, jangan sampai pesta olah raga ini tercederai oleh hal-hal yang justru merusak rasa kebersamaan, kesepahaman, dan hubungan baik antarnegara ASEAN. Sejarah juga telah menorehkan catatan buruk yang tidak perlu terulang, seperti konfrontasi Indonesia dengan Malaysia hingga lahir semboyan Ganyang Malaysia, 1963-1965.

Memang berbeda latar belakanya. Konfrontasi tahun 1963-1965 berlatar belakang jauh lebih ideologis dan stategis, kaļi ini “hanya” soaĺ bendera terbalik. Tetapi, justru karena benďera adalah simbol kedaulatan negara, plus ada pengalaman sejarah itulah, soal bendera terbalik bisa jadi sensitif; bahkan bisa menjadi faktor pemantik konflik yang lebih berskala regional.

Mengingat hal itu, kasus bendera terbalik sebaiknya jangan disikapi hanya dengan pendekatan normatif. Selain simbol kedaulatan, bendera Merah Putih juga mewakili alam bawah sadar bangsa kita sejak berabad-abad silam. Merah Putih adalah jiwa bangsa Indonesia.

Ketika hal ini tidak ditangan sebagai insiden diplomatik, bisa saja berkembang menjadi pemantik ke arah konfrontasi seperti halnya dulu. Kalau hal ini yang terjadi, tema pun berkembang tidak lagi sekadar soal bendera, melainkan berkembang membuka luka lama, terjadi konfrontasi, sesuatu yang sepertinya dikehendaki oleh negara-negara lain yang punya kepentingan terjadinya instabilitas di kawasan ASEAN.

Banyak pihak telah mengingatkan, AS dan sekutu-sekutu Eropa Barat maupun Cina sama-sama memandang bahwa negara-negara ASEAN sangat strategis sebagai arena perang proksi, perang tak langsung. Sehingga, mereka punya kepentingan agar ASEAN terpecah-belah.

Mengingat hal itu, seharusnyalah kita waspada, jangan sampai RI-Malaysia jadi alat perang proksi negara-negara adikuasa. ( * )