Sunday, 17 December 2017

Kasus Novel, Pemuda Muhammadiyah: Pemerintah Mau Apa Tidak

Senin, 28 Agustus 2017 — 18:38 WIB
muhammadiyah

JAKARTA (Pos Kota) – Kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan yang sudah memasuki bulan kelima masih menyimpan misteri. Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar, menilai pemerintah tidak serius untuk mengungkap kasus ini.

“Yang jelas Kalau ada TGPF pasti akan cukup membantu pengungkapan aktor-aktor dan motif. Kalau polisi kan harusnya ya tuntaskan dulu pelakunya siapa. Itu saja dulu. Ketika pelaku ditemukan, aktor kemudian baru kita masuk kepada motif. Itu saja. Kalau kemudian cara bekerjanya begini, bahkan serangan itu ditujukan kepada novel itu membuat kita makin pesimis. Bukan masalah tidak bisa diungkap, ini masalah mau atau tidak mau. Itu saja,” kata Dahnil, Senin (28/8/2017).

Ia mengatakan pemuda muhammadiyah tidak masuk ke ranah hukum Novel, tapi akan memperjuangkan keadilan bagi mereka yang tidak mendapatkan keadilan. “Enggak nggak masuk ke situ ya.  Yang jelas Pemuda Muhammadiyah kan bukan cuma dalam kasus Novel ya tapi dalam banyak kasus kami berusaha mencari keadilan untuk mereka-mereka yang dianggap tidak menemukan keadilan,” ujarnya.

Terkait aktor dibalik kasus Novel, Dahnil mengaku hanya Novel yang menyimpan namanya. “Yang jelas saya nggak tahu persis ya. Yang jelas bahwasanya ada dugaan keterlibatan dari mereka mereka pemilik senjata dan berkuasa. Itu tercium dari lambatnya penanganan kasus ini. Bahkan perkembangannya kita ndak tahu arahnya kemana,” ucapnya.

Ia berharap TGPF diisi tokoh-tokoh yang kredibel dan independen. “Yang jelas jangan sampai jeruk makan jeruk-lah. Yang kredibel dan independen kata kuncinya dua Itu. Tentu kami masyarakat sipil kontras semuanya yang PP Muhammadiyah LBH terus mengawal kasus ini sampai tuntas,” pungkasnya. (ilham/yp)