Tuesday, 21 November 2017

SIKAP ZUHUD

Kamis, 31 Agustus 2017 — 5:22 WIB

Oleh Harmoko

PADA Kamus Besar Bahasa Indonesia, zuhud berarti perihal meninggalkan keduniawian. Pada era materialistis seperti dewasa ini, banyak orang bilang, hal itu sulit diwujudkan. Kasus perjalanan umrah yang melibatkan First Travel dan beberapa yang lain, misalnya, mengonfirmasikan perihal itu.

Umrah sebagai perjalanan suci umat Islam, perjalanan yang diniatkan untuk mencapai urusan ukhrawi, dicederai oleh perilaku tak terpuji yang bersifat keduniawian. Sebagaimana dilansir berbagai media, gaya hidup foya-foya pengelola perjalanan umrah bertolak belakang dengan spirit suci para calon jemaah.

Ketika seseorang telah meniatkan berumrah, orientasinya tidak ada lain kecuali memang untuk beribadah. Untuk mewujudkan niatan itu, sedikit demi sedikit uang dikumpulkan. Ketika uang disetorkan kepada pihak yang menyatakan siap untuk mengatur perjalanan umrahnya, tak tebersit sedikit pun kecurigaan bahwa si penyelenggara akan berbuat curang.

Di sana ada keikhlasan. Ada ketulusan atas nama niat suci. Bagi mereka, beribadah bukanlah sekadar keinginan, tetapi sebuah kebutuhan. Di sisi lain, hidup berfoya-foya tentu bukanlah kebutuhan melainkan keinginan yang tentu tak akan pernah habis.

Tiada kejadian tanpa hikmah. Memetik hikmahnya, ini sekarang yang harus kita lakukan. Tak saja pelajaran bagi kita yang hendak berumrah, tetapi juga bagi pemerintah dan para pengelola perjalanan umrah.

Bagi kita yang hendak melakukan perjalanan umrah, sudah saatnya jangan mudah terkena bujuk rayu promosi biro perjalanan umrah. Waspadai ketika ada promosi umrah dengan biaya murah. Di balik sesuatu yang seolah mudah dan murah, sangat mungkin ada persoalan di sana.

Bagi pemerintah, saatnya segera tata kembali sistem dan mekanisme perjalanan umrah. Soal batas minimal biaya umrah, misalnya, harus diatur; termasuk standar minimal yang harus dipenuhi oleh para pengelola perjalanan umrah dalam melayani para jemaahnya.

Kalau pemerintah telah menata ulang sistem dan mekanismenya, tidak ada pilihan lain bagi biro perjalanan umrah untuk menaatinya. Tidak pada tempatnya, menjalankan urusan duniawi dengan cara memanfaatkan ketulusan dan keikhlasan pihak lain, apalagi keikhlasan yang berkaitan dengan urusan ukhrawi.

Di sinilah relevansinya kita mempersoalkan akhlak kezuhudan pada era materialistis ini. Hilangnya sikap zuhud, kata Pak Ustaz, bukankah akan membuat kita selalu berada dalam perasaan serba kekurangan di tengah aneka kelebihan yang kita miliki? ( *