Saturday, 25 November 2017

Bunda Shita Merusak Nama Kartini Kita

Sabtu, 2 September 2017 — 8:34 WIB

Oleh S. Saiful Rahim

“MAS, saya mau nanya nih ya. Mas Wargo orang Tegal apa bukan?” kata Dul Karung setelah memberi salam, masuk, dan duduk di tempat yang tersedia di warung kopi Mas Wargo. Tidak seperti biasanya, kali ini dia tidak mencomot singkong goreng lebih dulu.

“Ada urusan apa kau menanyakan Mas Wargo orang Tegal atau bukan? Karena kau heran ya, sudah begitu lama dan begitu banyak kau berutang tapi tidak ditagih-tagih juga?” tanya orang yang baru saja bergeser demi memberi tempat duduk kepada Dul Karung.

“Aku cuma ingin tahu saja. Biasanya warung kopi seperti ini kan orang menyebutnya Warung Tegal. Kalau urusan utang tanpa piutang di warung mana pun biasa aku lakukan. Bukan hanya di warung ini,” kata Dul Karung seenaknya saja. Dan seenaknya pula tangan mencomot singkong goreng yang masih kebul-kebul.

“Lalu kalau Mas Wargo orang Tegal kau mau apa?” sambar orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang. Satu-satunya tempat duduk bagi pelanggan warung itu.

“Mau tanya mengapa dia tidak turut menggundulkan kepala seperti yang banyak dilakukan orang Tegal lainnya?” jawab Dul Karung sambil mengunyah, tanpa peduli etika.

“Hlo mengapa mereka menggunduli kepala?” tanya orang yang entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Senang karena Bunda Shita, Walikota Tegal ditangkap KPK,” jawab Dul Karung jumawa. Merasa dia lebih banyak tahu daripada orang-orang lain yang ada di warung kopi itu.

“Hlo, kok walikota ditangkap? Seharusnya kan justru beliau yang menangkap,” kata orang yang entah siapa itu lagi.

“Biasanya memang begitu. Konon walikota yang biasa dipanggil Bunda Shinta oleh masyarakat Tegal itu amat ringan tangan untuk menindak bawahannya. Itu sebab ketika beliau ditangkap, oleh KPK lagi, maka banyak orang yang merasa bersyukur. Mereka itulah yang melakukan aksi ‘plontosan kepala’ alias mencukur habis rambutnya. Mungkin aksi itu mereka jadikan semacam lambang kepala mereka sudah dibersihkan dari kutu, ketombe, dan segala macam yang buruk-buruklah,” tanggap orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang, mengundang tawa hadirin.

“Kabarnya Bunda Shita ditangkap bareng dengan Amir yang akan maju menjadi wakilnya dalam pemilihan Walikota Tegal tahun depan. Waduh, kalau keduanya bisa ‘menyelinap’ dan terpilih jadi pasangan walikota dan wakilnya, apa jadinya dengan Tegal yang warganya terkenal gigih dan jujur berusaha, sehingga di mana-mana ada Warung Tegal. Kecuali di surga,” sela yang orang duduk selang tiga di kanan Dul Karung.

“Hey! Kalau ngomong jangan sembarangan dong. Di surga kau bilang tidak ada Warung Tegal. Apa kau pikir orang Tegal tidak ada yang masuk surga?” serobot orang yang duduk di sebelah orang itu dengan aksen Tegal yang khas.

“Bukan begitu maksudku. Aku yakin di surga banyak orang asli Tegal, karena aku punya banyak teman asli Tegal yang bukan main alimnya. Bahkan ada yang menjadi kyainya para kyai. Cuma aku hakulyakin, sangat-sangat yakin, bahwa di surga tidak ada pedagang kakilima,” balas orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung disambut tawa hadirin.

“Astaghfirullah…… La hawla wala quwwata. Aku jadi sedih mengingat perjuangan dan cita-cita Ibu Kartini. Kok setelah banyak perempuan pandai dan tinggi jabatan seperti impian Ibu Kartini, bermunculan juga yang jadi penjahat. Jadi koruptor. Bahkan kini di Tegal, kota yang jaraknya tidak berapa jauh dari Jepara, kota Ibu Kartini, muncul perempuan pejabat tertinggi sebuah kota yang mempermalukan Ibu Kartini,” kata Dul Karung seraya meninggalkan warung dengan begitu saja. (syahsr@gmail.com)