Wednesday, 26 September 2018

Rohingya, Etnis Minoritas Paling Menderita di Dunia

Minggu, 3 September 2017 — 15:04 WIB
Aktivis KAMMI Daerah Sukabumi saat melakukan aksi solidaritas terhadap Etnis Rohingya, Myanmar.

Aktivis KAMMI Daerah Sukabumi saat melakukan aksi solidaritas terhadap Etnis Rohingya, Myanmar.

​SUKABUMI (Pos Kota) – Aksi solidaritas terhadap etnis Rohingya di negara bagian Arakan (Rakhine), Myanmar terus mengalir dari berbagai daerah, termasuk di Sukabumi.

Diinisiasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Sukabumi dan berbagai Komunitas digelar aksi solidaritas dan penggalangan dana yang dipusatkan di Alun-alun, Jalan A. Yani, Kota Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (3/9/2017).

​​Selain melakukan orasi, mereka juga melakukan longmarch, dari Pendopo Sukabumi di Jalan A Yani ke Supermal. Kemudian dilanjut ke Jalan Jaenal Zakse dan orasi kembali di Jalan Ir Djuanda. Lalu diteruskan melewati Jalan RE. Marthadinata menuju ke Lapang merdeka diakhiri dengan Salat Goib.

Menurut Ketua KAMMI Daerah Sukabumi, Rinaldi Yusup, tragedi kemanusiaan tengah melanda etnis Rohingya. Dari data PBB disebutkan, saat ini etnis Rohingya merupakan etnis minoritas paling menderita di dunia.

“Mereka ditolak kewarganegaraan di wilayahnya sendiri, dirampas haknya, diskriminasi, perkosaan pembantaian massal, tidak ada pasokan makanan serta pengusiran yang sudah dilalui sejak 30 tahun terakhir,” cetus Rinaldi sekaligus koordinator aksi.

Ditegaskannya, semua tindakan yang kini diterima etnis Rohingya merupakan salah satu bentuk kejahatan atas kemanusiaan, jelas telah melanggar Hak Azazi Manusia (HAM). Tindakan kekerasan dari pemerintah junta militer Myanmar telah menyebabkan puluhan ribu etnis ini terbunuh dan sisanya mencari suaka ke negara tetangga, salah satunya Indonesia.

“Pernyataan Presiden Myanmar Thein Sein yang menganggap etnis Rohingya bukan orang asli Myanmar melainkan imigran gelap merupakan kesalahan besar. Sejarahanya Muslim Rohingya sudah tinggal di Arakan bahkan sebelum Burma yang sekarang jadi Myanmar merdeka dari Inggris pada 1948. Etnis Rohingya merupakan etnis setempat yang telah tinggal lama menetap di wilayah tersebut,” jelasnya.

Dalam aksi itu, mereka menyatakan sikap. Isinya ada lima poin, yaitu:

1. Menuntut pemerintah Myanmar untuk mengakui kewarganegaraan etnis Rohingya dan menghentikan segala bentuk diskriminasi terhadap etnis Rohingya.

2. Mendesak agar Indonesia dan negara negara di ASEAN melakukan tekanan terhadap Myanmar agar segera menyelesaikan peristiwa berdarah yang terjadi terhadap etnis Rohingya di Myanmar.

3. Mendesak pemerintah Indonesia agar mengambil sikap terkait peristiwa berdarah yang terjadi terhadap etnis rohingya dengan mendeportasi kedutaan besar Myanmar untuk Indonesia.

4. Menuntut pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi berusaha keras menghentikan aksi pengusiran dan pembantaian atas dasar persamaan kemanusiaan. Jika tidak, Aung San Suu Kyi sangat tidak pantas menerima Nobel Perdamaian.

5. Menghimbau seluruh masyarakat Indonesia khususnya Sukabumi untuk mendoakan dan membantu saudara saudara muslim rohingya agar peristiwa berdarah tersebut segera berakhir.

(sule/sir)