Tuesday, 25 September 2018

Forum Rektor Desak Dunia Cabut Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi

Senin, 4 September 2017 — 10:15 WIB
Aung San Suu Kyi.(reuters)

Aung San Suu Kyi.(reuters)

JAKARTA (Pos Kota)- Forum Rektor Indonesia (FRI) mendesak agar penghargaan nobel perdamaian terhadap Aung San Suu Kyi dicabut kembali. Pasalnya yang bersangkutan terbukti tidak ada niat dan upaya menciptakan perdamaian di negara Myanmar yang dipimpinnya sendiri.

“Tindakan sadis dan keji terhadap etnis Rohingya menjadi bukti bahwa Aung San Suu Kyi tak pantas mendapatkan nobel perdamaian,” kata Ketua FRI Prof Suyatno, Senin (4/9/2017).

Tak hanya menuntut dicopotnya nobel perdamaian terhadap Aung San Suu Kyi, FRI juga meminta agar Komisi HAM PBB untuk melakukan investigasi secara mendalam dan komprehensif terhadap pelanggaran HAM di Myanmar serta melakukan pengadilan internasional terhadap Aung San Suu Kyi atas tindakan militer Myanmar yang melakukan tindakan pembunuhan yang jelas bertentangan dengan kemanusiaan.

Menurutnya tindakan militer Myanmar mengusir dan membunuh etnis Rohingya secara keji dan tidak manusiawi merupakan upaya Genosida. Hal tersebut jelas merupakan pelanggaran Hak Azasi Manusia (HAM).

Prof Suyatno mengatakan bahwa terhadap kasus Myanmar ini, pemerintah Indonesia harus segera mengeluarkan sikap tegas.
Mengingat kasus ini sangat bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 dimana dalam pembukaan UUD 1945, dinyatakan bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

“FRI mengutuk keras militer Myanmar dan meminta pemerintah Myanmar menghentikan genosida etnis Rohingya karena tindakan tersebut jelas merupakan pelanggaran HAM,” tambahnya.

FRI juga meminta agar pemerintah Myanmar, negara-negara ASEAN dan PBB melindungi etnis Rohingya secara maksimal.

Selain itu FRI mendesak negara-negara anggota ASEAN untuk bertindak tegas dengan mengeluarkan keanggotaan Myanmar jika terus melakukan upaya genosida Etnis Rohingya di Myanmar.
(faisal/sir)