Monday, 20 November 2017

KURBAN, KORBAN, QURBAN

Senin, 4 September 2017 — 5:26 WIB

Oleh H. Harmoko

KATA kurban dan korban sebenarnya sama-sama diserap dari bahasa Arab qurban. Mengapa penulisan ejaannya berbeda? Karena, antara yang pertama dan kedua memiliki konsep yang berbeda. Yang pertama terkait dengan konsep keagamaan, sedangkan yang kedua tidak. Tetapi, secara umum, keduanya bisa dipertautkan.

Tengok Kamus Besar Bahasa Indonesia! Kata kurban dimaknai sebagai persembahan kepada Allah (seperti biri-biri, sapi, unta yang disembelih pada Hari Lebaran Haji) sebagai wujud ketaatan muslim kepada-Nya. Sedangkan kata korban dimaknai sebagai orang, binatang, dan sebagainya yang menderita (mati dan sebagainya) akibat suatu kejadian, perbuatan, dan sebagainya.

Dalam konteks seperti apa kedua kata itu bisa dipertautkan? Saat umat Islam merayakan Idul Adha dengan menyembelih hewan kurban sebagai wujud ketaatan terhadap Allah s.w.t., saat itulah kita diingatkan tentang nilai pengorbanan. Iya, dalam persepsi Islam, hari raya harus diisi dengan berbagai nasihat, syiar, dan ibadah yang mengandung nilai-nilai sosial, termasuk pentingnya rela berkorban demi kepentingan yang lebih luas.

Pada Hari Raya Kurban, umat Islam (yang mampu) disyariatkan menyembelih hewan kurban untuk dibagikan kepada fakir miskin, kerabat, dan sebagian untuk keluarganya sebagai upaya menebar kebahagiaan di muka bumi. Ada pesan moral di sana tentang pentingnya berkurban sekaligus berkorban.

Dalam relasi sosial, ada saatnya kita harus rela berkorban. Berkorban dengan cara merelakaan sesuatu kepada orang yang membutuhkannya, berkorban dengan cara tidak melakukan sesuatu agar tidak merugikan orang lain, berkorban untuk tidak membuat pernyataan yang bisa melukai perasaan orang lain, dan sebagainya. Mari korbankan hawa nafsu, buang sikap individualistis dan fanatisme mekelompok, demi ukhuwah insaniyah.

Apakah hal itu hanya kita lakukan pada saat Hari Raya Kurban yang kemarin baru saja kita rayakan? Tentu tidak. Syariat kurban yang setiap tanggal 10 Zulhijah kita laksanakan, sejatinya terkandung makna pengokohan ikatan sosial yang dilandasi kasih sayang dan ketulusikhlasan. Ini cermin ketakwaan yang setiap saat harus menghiasi hidup kita.

Dengan begitu, kita lupakan permusuhan, kita abaikan pertentangan; tingkatkan kepedulian kita kepada saudara-saudara yang sedang menjadi korban ketidakadilan, korban musibah, korban apa pun, demi kedamaian; damai di bumi dan damai di akhirat. Amin. ( * )