Wednesday, 14 November 2018

Evaluasi Raihan Medali

Menpora: Opini Kegagalan SEA Games Biar Saya yang Nanggung

Senin, 4 September 2017 — 18:42 WIB
Menpora saat gelar evaluasi

Menpora saat gelar evaluasi

JAKARTA (Pos Kota) –  Menpora Imam Nahrawi menggelar evaluasi raihan medali kontingen Indonesia di SEA Games 2017 Kuala Lumpur, Malaysia bersama dengan stakeholder olahraga terkait. Menpora  menekankan bahwa terkait anggaran menjadi evaluasi prioritas.

“Unit-unit terkait harus kita bedah lagi agar mata rantai yang begitu panjang harus diputus dan ini sering saya sampaikan di internal Kemenpora,” di ruang sidang lantai 3 Kantor Kemenpora, Senayan, Jakarta, kemarin.

Menpora menyebut, pentingnya koordinasi diantara KONI, KOI, Satlak Prima harus di berikan ruang yang luas pihaknya berharap kedepan adanya prioritas anggaran yang didapat dari APBN yang dapat digunakan secara fleksibel untuk kepentingan cabang olahraga.

“Kita harus cari terobosan besar agar dana olahrahga tidak hanya menggunakan dana APBN saja melainkan setiap cabor ada bapak asuh atau bapak asli,” katanya.

Terkait prestasi Kemenpora tidak akan menyalahkan atlet, cabor, tetapi yang lebih penting adalah Indonesia akan bersama menyongsong Asian Games 2018.

“Terima kasih atas perjuangan para atlet dan ofisial yang telah berjuang di SEAG, opini publik tentang kegagalan SEA Games biarlah saya yang menanggung, mari kita bersama memperbaiki sesuai dengan porsinya untuk kebangkitan Asian Games 2018 nanti yang kita akan menjadi tuan rumah,” tuturnya.

Ketua Satlak Prima Achmad Sudjipto menyampaikan, setidaknya ada 17 medali emas dari nomor lomba di beberapa cabang yang hilang seperti cabor atletik, water ski & wakeboard, sailing, balap sepeda, golf, bowling, tenis lapangan, dan pencak silat. Selain itu ada beberapa pemecahan rekor SEA Games di 6 cabor di 9 nomor.

“Beberapa siasat dan perlakuan tuan rumah untuk mengambil keuntungan secara massif dan terkadang mengabaikan nilai- nilai kepatutan dalam kompetisi tidak hanya hanya Indonesia yang dirugikan tapi juga negara lain seperti Thailand dan lain sebagainya,” urainya.

Faktor lainnya lanjutnya yakni seperti keterlambatan honor atlet dari Bulan Januari hingga Mei 2017, keterlambatan pelunasan kontrak akomodasi, sulitnya sewa sarana latihan, dukungan vitamin dan suplemen yang masih kurang menjadi faktor yang membuat kegagalan Indonesia lebih banyak dan sebagainya. (rizal/win)