Thursday, 23 November 2017

ENAK JUGA MINTA MAAF

Rabu, 6 September 2017 — 7:11 WIB

PESTA Olahraga SEA Games 2017 di Kuala Lumpur sudah usai. Namanya pesta, tuan rumah Malaysia benar-benar berpesta. Juara umum. Lebih 100 keping emas digondolnya.

Indonesia? Lumayan. Masih ada. Cuma 38 medali emas. Dan itu merupakan prestasi terburuk selama SEA Games dihelat sejak 1977.

Selama SEA Games, 3 kali kita menduduki posisi ke-5. Tahun 2007 di Filipina, tahun 2015 di Singapura dan yang ketiga tahun ini di Malaysia.

Dua kali menempati tempat ke 5, kita dapat mengumpulkan medali emas di atas 40 keping. Baru di tahun 2017, kita hanya mampu meraih 38 emas. Maka prestasi di SEA Games 2017, terburuk dan terpuruk karena cuma meraih 38 medali emas.

Melihat prestasi begini, Indonesia gagal total. Reaksi Menpora yang bertanggungjawab di bidang olahraga? Minta maaf. Mundur? Ntar dulu.

Lampu kuning prestasi Indonnesia sudah sejak pascareformasi. Alasannya disebutkan kurangnya anggaran pembinaan, kurangnya latih tanding dan persiapan minim menjelang laga.

Alasan itu mungkin benar adanya. Tapi yang tak kalah penting, terjadinya polemik berkepanjangan masalah sepakbola. “Pertengkaran” antara Menpora dengan Ketua Umum PSSI La Nyalla Mattalitti yang terpilih pada Kongres Luar Biasa PSSI menguras tenaga dan pikiran orang-orang bola, termasuk Menpora.

Terkesan perseteruan itu bersifat pribadi. Menpora berusaha mendongkel La Nyalla.
Di saat yang sama, PSSI disorot FIFA, induk olahraga sepabola. Titik kulminasinya, FIFA menskors PSSI. Bagaimana mengembalikan posisi PSSI dan dicabutnya skorsing FIFA menjadi PR (pekerjaan rumah) yang tIdak mudah.

“Pertengkaran” Menpora dengan La Nyalla mereda setelah La Nyalla digeser dari PSSI. Dalam Kongres PSSI selanjutnya terpilih Letjen Eddy Rachmayadi sebagai ketua umum.

FIFA juga akhirnya mencabut skorsing terhadap PSSI. Sementara La Nyalla yeng bergulat di pengadilan dengan tuduhan korupsi, belakangan dinyatakan bebas oleh MA. Bahkan ia berniat akan maju sebagai Calon Gubernur Jawa Timur pada Pilkada 2018.

Terkurasnya tenaga dan pikiran Menpora bukan tidak mungkin mempengaruhi pembinaan olahraga. Belum lagi masalah pemuda. Karena Menpora itu Menteri Pemuda dan Olahraga, bukan olahraga saja.

Sebenarnya sudah dapat diperkirakan mundurnya prestasi kita di SEA Games 2017. Begitu pun pengurus induk organisasi tidak mau patah semangat. Perolehan medali ditargetkan. Nyatanya jauh meleset sehingga berada di urutan ke-5.

Itu Asia Tenggara. Bagaimana Asian Games?

Maka benarlah adanya, Presiden Jokowi perlu segera mengevaluasi olahraga kita. Apa yang salah? Apa soal dana? Atau ada ketidakharmonisan pada pengurus induk organisasi. Atau pembinaan pemerintah dalam hal ini Menpora yang kurang baik?

Setelah nanti Jokowi mengadakan evaluasi terhadap olahraga kita, bagaimana Menpora? Akankah bertahan dan tetap minta maaf? Atau akankah mengundurkan diri? Kita lihat sajalah. (lubis1209@gmail.com)*