Monday, 25 September 2017

Mengubah Sikap Emosi menjadi Rasa Simpati

Rabu, 6 September 2017 — 5:28 WIB

UNTUK kesekian kalinya akibat ketersinggungan di jalan raya berubah menjadi petaka. Akibat emosional berujung menjadi brutal, bahkan tak jarang berbuah tindak kriminal.

Begitu juga peristiwa yang terjadi di kawasan Senayan, Jakarta, Selasa (5/8) dini hari, pukul 02:00.

Penembakan dan perusakan terhadap penumpang mobil minibus, menurut keterangan polisi, berawal dari pandangan mata, berlanjut ke adu mulut.

Upaya damai sudah dilakukan, tapi yang terjadi kemudian adalah munculnya perilaku tindak kriminal yang mengakibatkan dua orang luka dan kerusakan mobil korban.

Dengan tidak mencampuri perihal penyidikan yang sedang dilakukan Polsek Tanah Abang, Jakarta Pusat, setidaknya dari kasus ini kita bisa mengambil hikmah untuk mencegah kasus tidak terulang lagi.

Lepas dari siapa yang memulai sehingga peristiwa ini bisa terjadi, pelajaran yang bisa kita petik adalah perlunya pengendalian diri dalam menyikapi situasi.

Dari sejumlah kasus serupa, emosi yang tak terkendali bisa berakibat fatal. Bukan saja bagi dirinya sendiri karena harus menanggung akibatnya berurusan dengan masalah hukum, juga bagi orang lain yang menjadi korban.

Kita kadang bisa terpancing emosi ketika berada di jalan raya. Sebut saja kita sedang berkendara dalam posisi yang benar, menunggu antrian di lampu merah. Begitu lampu hijau, tiba tiba diserobot mobil dari lajur sebelah atau bunyi klakson terus menerus dari mobil di belakang, padahal mobil yang kita kendarai belum bisa jalan akibat tersendat mobil di depannya.

Boleh jadi pengendara mobil yang di belakang menilai mobil di depannya lelet, sehingga mengganggu pengendara lain.

Kondisi semacam ini bisa berujung keributan, jika salah satu pihak misalnya memulai dengan ucapan berupa sindiran, teguran atau mungkin makian.

Yang menegur misalnya merasa terganggu, yang ditegur tidak terima karena merasa dalam posisi yang benar.

Persoalan tidak berlanjut keributan, jika masing – masing atau salah satu pihak menganggapnya sebagai salah paham, persoalan biasa di jalan raya.

Sebaliknya, persoalan kian rumit kalau masing – masing lebih menonjolkan egonya, bahwa dirinya yang merasa benar.

Sikap yang egosentris, menilai segalanya dari sudut diri sendiri, tidaklah pada tempatnya pada situasi seperti ini.

Menjadikan diri sendiri sebagai titik pusat pemikiran ( perbuatan) tanpa dapat memahami situasi lingkungan, sebagai bentuk pengingkaran manusia sebagai makhluk sosial.
Hanya saja acap kita jumpai penonjolan diri seperti ‘saya orang penting, saya banyak relasi, saya punya pangkat dan jabatan ‘ , masih terjadi.

Dalam kondisi bangsa dan negara yang sedang membutuhkan kebersamaan, mari kita perkokoh kesatuan, solidaritas sosial dengan membuang jauh sikap egosentris.

Bagi yang sedang diberi anugerah sebagai orang penting ( karena pangkat, jabatan, kekayaan) hendaknya disikapi sebagai ujian agar terhindar dari kesewenangan dan keakuan yang dapat memunculkan emosi diri.

Mari kita kendalikan diri agar tatapan dan pandangan mata bisa mendatangkan bahagia, bukan petaka di jalan raya. Ubah sikap emosi menjadi rasa simpati untuk membangun bangsa yang memiliki jati diri. (*).