Monday, 20 November 2017

Janda Pemilik Warung Nyaris Dinodai Dukun Cabul

Jumat, 8 September 2017 — 7:36 WIB
maunya

JANDA janda muda pemilik warung di Surabaya Barat, nyaris jadi korban pencabulan dukun cabul Sasmito, 62. Katanya, untuk penglaris bisa disarati dengan sperma atau rambut kelamin si janda. Setidaknya ada TIGA janda yang telah dicabuli, meski belum sampai pada adegan ranjang. Kini sidukun ditahan polisi.

Yang namanya dukun, jika tidak cabul sepertinya kok tidak afdol. Bahkan saking banyaknya peristiwa semacam, sudah seperti kata majemuk saja. Sebuah kata satuan yang terasa janggal jika ditinggalkan salah satunya, misalnya dukun, atau cabul saja. Tapi jika digandeng menjadi: dukun cabul, orang akan menjadi tahu bagaimana gambarannya.

Sasmito adalah seorang pendatang dari Lamongan. Di Surabaya jadi petualang, singgah dari rumah satu ke rumah lainnya, untuk mencari sesuap rejeki. Tapi yang lebih banyak jadi sasarannya, adalah kalangan janda pemilik warung. Yang menjadi orang terheran-heran, dari mana saja informasinya, kok Sasmito tahu bahwa pemilik warung itu seorang janda, masih muda lagi.

Kali pertama datang, Sasmito pura-pura pesan kopi atau makanan. Bila sepi tak ada pengunjung lain, barulah dia cerita ke sana kemari tentang keahliannya sebagai paranormal. Kata Mbah Sasmito kemudian, “Kalau sampeyan ingin warungnya laris, saya bisa kok mensyarati dengan sejumlah jampi-jampi.”

Pemilik warung pun tertarik. Begitu calon korbannya tertarik, Sasmito lalu membual bahwa warung ini ada penunggunya. Dia sanggup mengusir sekaligus dengan ritual tertentu. Apa itu? Syaratnya tidak berat, hanya menyediakan beras hitam dan putih, untuk ditaburkan sekeliling warung. Yang agak berat kata Sasmito, harus dilengkapi pula dengan sperma si janda lewat hubungan intim.

Tentu saja si pemilik warung tidak sanggup, apa lagi hubungan intim itu harus dengan si kakek yang penampilannya saja sudah tidak menjanjikan. Tapi dukun Sasmito lalu menurunkan persyaratnnya. Jika bukan dengan sperma, juga bisa disarati dengan rambut di kelamin si janda.

Kalau sekedar ini, ternyata si pemilik warung tidak keberatan, meski pencabutan itu tak bisa dikuasakan, melainkan dicabut sendiri oleh si dukun. Maka calon korbannya pun menjalani ritual tersebut dengan sedikit cemas dan malu-malu.

Cuma sayangnya, meski sudah menjalani ritual semacam itu, kondisi warungnya sama saja, tidak menjadi laris dengan drastis. Seorang janda bernama Anik, 33, yang tinggal di Benowo, memberanikan diri lapor ke polisi. Menyusul laporan Anik, para pemilik warung yang lain juga melapor. Kata para korban, selain dimintai barang Rp 50.000,- ada juga yang memberinya Rp 3 juta.

Mbah Sasmito praktek beginian sejak tahun 2013. Maka dalam kurun waktu korbannya hanya 3 orang, polisi Polsek Pakal tidak percaya. Tapi Sasmito sumpah-sumpah, korbannya baru tiga orang dan hanya dicambut rambut kelaminnnya, tidak ada yang sampai adegan ranjang.

Berani sumpah pocong, Mbah? (JPNN/Gunarso TS)