Monday, 20 November 2017

Apa Benar Lelaki “Gunawan” Lebih Perkasa dan Romantis?

Sabtu, 9 September 2017 — 9:03 WIB
legi

JAWABAN dari judul ini tanyakan saja pada Ny. Maryanti, 55, warga Surabaya ini. Sejak suami meninggal 5 tahun lalu, dia gonta-ganti pacar yang semuanya “gunawan” alias gundul tapi menawan. Kenapa menawan? Dalam urusan ranjang katanya romantis sekali dan perkasa. Tapi anak-anak yang malu!

Menyandang status janda dalam usia overseks (50 tahun lebih), mestinya cari suami lagi sekedar untuk persahabatan, bukan lagi pertandingan. Namun ternyata tak semua wanita begitu. Banyak pula wanita overseks hasratnya masih menyala-nyala, sehingga cari suami musti yang tetap josss dan maknyosss. Jika tak memenuhi harapan, perempuan model begini tak sungkan untuk berganti-ganti pasangan baru.

Sekitar 5 tahun lalu Ny. Maryanti ditinggal mati suami. Anak-anak sudah gede dan sudah pada menikah, mestinya Yang Putri tinggal jadi MC (momong cucu) di rumah. Tapi tidak dengan si nenek satu ini. Dalam usia sudah kepala 5 hasratnya masih menyala-nyala bagaikan obor PON baru diambil dari Mrapen. Jika melihat cowok ganteng, tak peduli usia jauh di bawahnya, jantungnya masih terasa serrrr-seran.

Kebetulan Ny. Maryanti memiliki usaha toko di Kapas, sehingga dengan kemampuan keuangannya dia mencoba mendekati si brondong. Berkat pendekatan keuangan, anak muda itu mau juga diajak pacaran dengan si nenek. Bukan sebagai persahabatan, tapi pertandingan juga. Dan sepertinya Ny. Maryanti merasa puas, karena dahaga asmara tersalur kembali.

Tapi beberapa bulan kemudian, pacar Mbah Putri sudah ganti lagi. Itu juga tidak lama. Hanya satu kwartal (3 bulan) sudah dieliminasi, untuk berganti lelaki lain. Yang menarik, semua pacar-pacar Maryanti ini selalu berambut gundul alias gunawan. Kata Maryanti, lelaki plontos meling-meling (mengkilat) itu romantis dan perkasa di ranjang. Tapi kenapa cepat di putus? “Mereka pengeretan, aku butuh bonggol, dia butuh benggol (uang) terus.” Kata Maryanti.

Berita Maryanti gonta-ganti pasangan itu terdengar juga oleh anak-anaknya. Mereka malu sekali. Sudahlah Mbah, kalau ada yang cocok langsung menikah saja. Tapi Maryanti tidak mau. Dia lebih senang dengan hidup sebagai petualang asmara di usia senja. Karenanya anak-anak juga khawatir, jangan-jangan harta warisan ayah akan ludes diabul-abul ibu untuk memanjakan para lelaki gunawan.

Untuk menjaga segala kemungkinan, anak-anak mendesak ibunya untuk membagi asset peninggalan sang ayah. Ternyata Maryanti tak keberatan, sehingga beberapa hari lalu mereka mendatangi Pengadilan Agama Surabaya untuk pembagian harta waris. Anak-anak juga tenang, karena tak ada lagi ada asset yang bakal diporotin kekasih ibunya.

Mestinya mbah putris fokus cari pahala, bukan pamerkan paha. (JPNN/Gunarso TS)