Sunday, 24 September 2017

Jadi Walikota, Oke!

Sabtu, 9 September 2017 — 7:40 WIB
jang

SIANG hari, Bang Jalil menerima telepon,“Siap jadi walikota? Oke, kalau begitu. Anda harus siap juga semuanya. Kesehatan badan harus luar dalam. Artinya, sehat luar ya pisiknya bagus, nggak loyo, bisa turun ke bawah alias blusukan melihat kondisi daerah yang Anda pimpin.
Lihat warga,bagaimana hidup mereka? Bagaimana rumahnya, layak atau nggak? Atau kehidupan ekonominya. Punya sembako apa nggak, pada makan apa nggak? Sehari makan berapa kali, tiga kali, dua kali,sekali atau sama sekali nggak makan?”

Bang Jalil menelan air liurnya karena kerongkongan kering, sementara kopi sang istri belum siap.

Sang penelon melanjut bicaranya, ” Dan siap yang kedua, harus punya modal. Lha, iya kan? Wong mau jual es aja kan pakai modal, apa lagi mau jadi wali kota yang banyak proyeknya? Modal buat kampanye, buat para pendukung, relawan atau apalah namanya. Jangan lupa buat yang mau milih, itu tuh serangan fajar!”

“ O, gitu ya? Tapi saya nggak punya modal, Pak?”

“ Lho, jangan guyon,ah? Masyarakat juga tau, bahwa Bapak dan Ibu artis, yang kabarnya punya usaha restoran? Hemm pasti duitnya banyak kan?”

“ Tapi, saya bukan artis Pak. Saya satpam,” kata Bang Jalil sambil menaruh HP di meja. Sang penelon pun sama mematkan HP, dan masih ada suara sisa yang terdengar ngomel.
“ Siapa yang nawari jadi wali kota, Pak?”Tanya sang istri, dengan kopi panasnya tentu.

“ Biasa, orang gila, dia pikir ibu artsis?”

“ Bilang saja mau,Pak,” kata sang istr.

“ Hemm, Bapak nggak mau, nanti Ibu ditangkep KPK!” -massoes