Saturday, 18 November 2017

Wakil yang Bikin Rakyat Bingung

Sabtu, 9 September 2017 — 8:20 WIB
dulkarrr

Oleh S Saiful Rahim

KETIKA masuk ke warung kopi Mas Wargo, Dul Karung masih berlaku seperti biasa, mengucap assalamu alaykum dengan fasih. Lalu tidak lagi seperti biasa, dia duduk bertopang dagu dengan pandangan kosong.

“Kenapa kau, Dul? Ada orang menagih utangmu dengan ancaman pembunuhan?” tanya orang yang duduk di sebelahnya sambil bergeser memberi tempat untuk Dul Karung duduk.

“Aku bingung dan tidak habis pikir, nih,” jawab Dul Karung. Kali ini kelakuannya kembali ke asal. Tangan mencomot singkong goreng yang masih kebul-kebul. Dan langsung mencaplok
dengan lahap.

“Aku makin bingung melihat tingkah laku anggota parlemen yang disebut terhormat itu. Baik beliau-beliau yang duduk di DPR maupun DPRD,” sambung Dul Karung masih belum membuat hadirin warung kopi Mas Wargo mafhum.

“Maksudmu?” tanya orang duduk di ujung kiri bangku panjang seraya memutar leher memandang ke arah Dul Karung.

“Di Palangkaraya, kota yang aku tidak tahu di mana letaknya itu, ada anggota DPRD membakar delapan gedung sekolah. Dan di Jakarta ada anggota DPR yang datang ke gedung KPK seperti datang mau menginap ke rumah mertua, membawa sekoper pakaian. Nah, sebagai manusia yang rakyat dua puluh empat karat ini, kan jadi linglung melihat tingkah laku para wakil rakyat tersebut,” jawab Dul Karung sambil menyeruput teh panas manis kental yang agak telat disuguhkan Mas Wargo.

“Gitu aja kok bingung,” komentar orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang setengah meniru gaya allahyarham Gus Dur.

“Wakil rakyat pembakar gedung sekolah maksudnya mau menghambat agar anak rakyat tidak ada yang pandai. Dengan begitu dia pikir tidak ada orang akan menyainginya setiap kali ada
pilkada kelak,” sambung orang itu dengan yakin dan mencoba meyakinkan hadirin.

“Lha anggota DPR yang ke gedung KPK bawa pakaian satu koper seperti suami yang diusir istri karena ketahuan selingkuh, maksudnya apa?” kini entah siapa dan duduk di sebelah mana yang
bertanya.

“Kalau itu sih maksudnya sejelas yang sudah beliau ucapkan sendiri. Beliau ingin ditahan dan dipakaikan rompi kuning KPK yang terkenal itu. Beberapa hari belakangan ini beliau dan teman-teman kan sering menuding, setidak-tidaknya menganggap, KPK kerap kali
menangkap orang tanpa bukti dan alasan sesuai dengan hukum,” jawab orang di ujung kanan bangku panjang.

“Lho kalau begitu beliau justru membuktikan tuduhan atau anggapannya bersama teman-teman tidak benar dong. Ternyata KPK tidak mau menahan, menangkap, memakaikan rompi kuning, dan entah apa lagi yang beliau harap, karena KPK tidak memiliki bukti-bukti beliau
bersalah. Jadi KPK hanya menahan atau menangkap, atau apapunsebutannya, orang-orang yang bukti kesalahannya ada pada KPK,” serobot orang selang tiga di kiri Dul Karung.

“Waduh! Waktu pemilu dulu aku termasuk yang memilih orang atau partai orang itu, atau bukan ya?” gumam Mas Wargo yang biasanya jarang turut campur obrolan pelanggan.

“Alah sudah! Tenang saja, Mas. Kan agama pun mengatakanbahwa manusia itu tak ada yang tidak bersalah. Karena itu Allah Maha Pemaaf. Lagi pula setiap lima tahun kan ada pemilu. Anggota dewan yang terhormat, baik di tingkat pusat maupun daerah yang sekarang Mas anggap tidak, atau kurang beres, pada pemilu nanti jangan dipilihlagi. Ceburin aja ke got,” kata Dul Karung sambil melangkah pergi dengan begitu saja. ( syahsr@gmail.com)*