Monday, 20 November 2017

Kawin Sekadar Formalitas Buku Nikah Ditahan Mertua

Minggu, 10 September 2017 — 7:03 WIB
enak

MURADI, 40, memang mau enaknya saja. Sudah punya istri pacaran lagi. Begitu WIL-nya, Indah, 35, hamil, dia mau menikahi sekedar formalitas, karena takut pada istri pertama. Keluarga istri kedua tak kurang akal. Begitu akad nikah selesai, buku nikah ditahan mertua. Gagalah Muradi ceraikan bini keduanya.

Menikah itu sesuatu yang sakral, tak boleh untuk main-main. Tapi di era gombalisasi ini, banyak pernikahan yang dilakukan sekedar untuk mengakali hukum Tuhan. Tahun 1990-an pernah ada ustadz menikahi janda STNK di hotel. Tapi hanya semalam saja. Sore nikah siri lewat kiai, malam si janda tokoh peristiwa Tanjung Priok itu digauli beberapa kali, paginya dicerai kembali. Ini namanya nikah mut’ah, karena sekedar untuk memuntahkan nafsu syahwat.

Agaknya Muradi warga Balikpapan (Kaltim) ini mau ikut-ikutan mengakali hukum Tuhan. Dia mau menikahi Indah, karena kadung hamil. Ketimbang dituntut pihak si wanita dengan resiko masuk penjara, ya sudah menikah saja meski hanya 5 menit. Maksudnya, habis nikah langsung ajukan gugatan cerai. Gitu saja kok repot!

Muradi dan Indah memang teman lama, saat duduk di SMA, hanya beda kelas. Lewat grup WA keduanya kembali bertemu, dan tahulah status masing-masing. Indah ini di masa sekolahnya dulu termasuk “bintang” karena kecantikannya. Tahu kini Indah sendirian, Muradi kembali ingin mengulang obsesi lamanya. Maka ketika menjapri Indah, dia bilang: “Kapan kita bisa bertemu berdua, Dik? Ya ngobrol-ngobrol saja dulu”

Lho, kok pakai istilah “dulu” segala, berarti nanti pasti ada buntutnya? Kontan Indah tak mau melayani, sebab dia takut nanti benar-benar “buntut” Muradi yang imut-imut itu menutut yang lain-lain. Kebanyakan lelaki kan begitu; awalnya sekedar bergaul saja, tapi jika ada peluang pengin juga menggauli.

Tapi Muradi memang lelaki ulet di jamannya. Meski Indah selalu menolak, terus dipepet, misalnya saja sebulan sekali dikirimi pulsa Rp 100.000,- Dasar dia pengusaha, pada malam-malam tertentu dia mengajak teman-teman sekolahnya wedangan di kafe. Tujuan utamanya adalah untuk memancing Indah keluar. Dan karena bersama-sama, Indah tak mampu menolak ajakan itu.

Makin lama Indah makin terpojok, sehingga akhirnya berhasil dipojokkan di ranjang hotel. Muradi yang tadinya janji hanya sekedar teman bergaul, akhirnya berhasil menggauli juga. Awalnya janji “ngobrol-ngobrol saja dulu”, sekarang digauli lebih dulu sebelum diajak ke KUA.

Entah berapa kali Muradi berhasil memojokkan Indah di ranjang hotel, tahu-tahu hamil. Kelabakan jadinya juragan sembako ini. Mau dinikahi resmi, istri pertama tidak setuju. Tak dinikahi akan dituntut oleh keluarga Indah. Akhirnya disepakati, Indah akan dinikahi tapi hanya perkawinan adhoc alias sementara saja.

Ketimbang malu, persyaratan seenaknya itu disetujui saja. Tapi selesai akad nikah, buru-buru keluarga sang mertua mengamankan surat nikah dari tangan Muradi. Mau diminta kembali, tetap ditolak. Sebab jika surat nikah itu sampai dipegang Muradi, akan dijadikan dasar menggugat cerai ke Pengadilan Agama. Mati kutulah sang don yuan itu. Dia harus poligami terpaksa, entah sampai kapan.

Kan enakan poligami bro, badan kelimis terus berkat sering mandi junub. (JPNN/Gunarso TS)