Thursday, 23 November 2017

Anggaran ‘Megap-megap’ RRI Asal Mengudara

Selasa, 12 September 2017 — 6:48 WIB
radio

RADIO Republik Indonesia (RRI) tanggal 11 September 2017 kemarin memperingati HUT-nya yang ke 72. Sejak 72 lalu RRI setia dengan mottonya: sekali di udara tetap di udara, dan sampai sekarang RRI memang konsisten, tetap mengudara. Tapi ya itu tadi, karena anggaran dari pemerintah pas-pasan, akhirnya ya……asal mengudara!

Biasanya setiap hari Rabu siang antara pukul 11 hingga pukul 13.00 RRI Pusat Jakarta selalu ada siaran uyon-uyon (gending Jawa) full dengan penyiarnya. Tapi sudah beberapa bulan ini, wasalam dari gelombang radio. Ketika siaran masih berlangsung personal penabuh gamelan tinggal 7-8 orang. Padahal mestinya seperangkat gamelan itu membutuhan personal 20 orang, dari niyaga hingga pesindennya.

Bisa ditebak, kondisi itu terjadi akibat minimnya anggaran RRI baik pusat maupun daerah. Dengan istilah LPP (Lembaga Penyiaran Publik), RRI justru menjadi Lembaga Pontang Panting karena anggaran yang semakin minim. Tapi karena setia pada motto lama “sekali di udara tetap di udara”, RRI tetap konsisten bisa tetap di udara meskipun asal bisa mengudara.

Di masa Orde Baru, RRI sudah tersaingi oleh TVRI dan radio swasta. Tapi masih bisa bernapas, karena dana yang cukup di bawah Departemen Penerangan. Tapi di era reformasi ini, ketika Deppen dibubarkan oleh Gus Dur, RRI terkena imbasnya. Meski Presiden Megawati berusaha menghidupkan Kementrian Penerangan dengan format lebih kecil sebagai Kementrian Informasi dan Komunikasi (Kominfo), anggaran RRI pun semakin kecil.

Ketika RRI menjadi LPP, pegawai RRI hanya tenaga kontrak. Jika ada yang PNS, itu sekedar menghabiskan mereka sampai masa pensiun. Paling ironis, di masa Orba RRI baru punya 49 studio RRI, tapi sekarang sudah menjadi 60. Bagaimana mungkin, jumlah RRI-nya makin banyak, tapi anggaran semakin mengecil? Bayangkan tahun 2014 misalnya, anggaran RRI hanya Rp 998 miliar. Padahal di Thailand, TV dan radio pemerintah anggarannya sampai Rp 1.500 triliun.

Setelah era reformasi, peran RRI dan TVRI semakin terdesak oleh TV swasta dan media sosial. Gara-gara iklan dimakan internet, radio swasta yang tempo hari meminggirkan RRI, kini sama-sama terpinggirkan. Kini banyak radio swasta yang tak mampu membayar penyiarnya. Walhasil, sekarang RRI dan radio swasta lebih banyak mengandalkan siaran kaset, sampai penyiarnnya pun hanya diprogram pada komputer.

Untuk menghidupkan RRI-TVRI ada rencana keduanya digabungkan menjadi RTRI. Tapi sayangnya, RUU-nya sejak tahun 2013 hingga sekarang belum selesai dibahas di DPR, karena harus menyelesaikan revisi RUU Penyiarannya lebih dulu. Akhirnya, RRI sekarang ini asal mengudara! –semprul