Thursday, 23 November 2017

Andai Debora Bayi Kita

Rabu, 13 September 2017 — 7:35 WIB
bayi

BAGI warga awam, kematian adalah tragedi. Bahkan bagian dari sejarah, yang terus dikenang sepanjang hidup. Terus membayang. Siapakah yang bisa melupakan kematian orang-orang yang kita cintai? Saat ajal itu terjadi di depan kita? Dia terus membekas, tak terlupakan!

Tapi bagi pegawai rumah sakit, dokter dan suster, kematian adalah pemandangan harian. Karenanya menyaksikan kematian adalah kerutinan. Bukan kejutan lagi. Tak ada emosi lagi menyertainya.

Maka batas kematian memang nisbi. Demikianlah yang terjadi pada bayi Debora Simanjorang, di ruang gawat darurat rumah sakit megah di ibukota, yang sedang menjadi heboh sekarang ini. Persoalannya adalah bukan mengapa dia meninggal, melainkan bagaimana cara meninggalnya.

Tak sulit untuk bersimpati pada orangtuanya. Bayangkan saja, andai Debora bayi kita. Seandainya kita yang menjadi kedua orangtuanya; merasakan kepanikan yang mereka rasakan, saat buah hati sedang kritis, enam jam menyabung nyawa. Betapa kejam manajemen rumah sakit yang bersikap tak peduli. Mengabaikannya.

Orangtua Debora bukan “orang yang tidak tahu diri” datang ke rumah sakit megah tanpa membawa uang, hanya semata-mata berharap “pertolongan darurat” bagi anaknya yang sedang bertarung nyawa. Dia sudah menunjukkan uang Rp5 juta – jumlah tak kecil – sebagaimana pengakuan yang diberikan lewat media.

Tapi manajemen rumah sakit bergeming. Kalau kurang dari Rp19,8 juta – sesuai persyaratan manajemen – Debora tak bisa mendapatkan perawatan selayaknya pasien. Maka Debora tak tertolong. Dan kemudian menemui ajalnya. Di situlah tragedi terjadi. Tragedi untuk kita semua.

Tiara Debora Simanjorang bukan bayi pertama yang menjadi korban kelalaian dan kepongahan manajemen rumah sakit, dokter, dan tenaga medis umumnya, akibat sikap manajemen yang cenderung “berdarah dingin”, menolak memberikan perawatan maksimal, karena “tidak memenuhi persyaratan”. Begitu banyak peristiwa serupa sering terjadi. Akan tetapi – dengan banyak alasan – terus saja berulang.

Maka menjadi renungan bersama, untuk apa sesungguhnya rumah sakit didirikan? Untuk menunjukkan kita manusia yang mulia, yang siap menolong sesama agar sembuh dari penyakitnya. Atau sebagai toko kelontong tempat berjual beli. Penjual jasa profesional – investasi bisnis yang menguntungkan – dengan tragedi manusia sebagai peluang yang mendatangkan keuntungan!
Saham rumah sakit dimana bayi Debora meninggal mengalami kejatuhan di bursa – bukti bahwa investor juga manusia. Bahwa isu moral juga ada tempatnya dan dipedulikan mereka.

Para profesional di pintu depan bisnis kesehatan itulah yang kehilangan kemanusiaannya, karena kematian hanya dianggap peristiwa rutin. Resiko biasa, semata mata demi menyelamatkan “persyaratan manajemen”.

Peristiwa bayi Debora akan terus berulang jika penegakan hukum, aturan dan etika tidak dikembalikan pada tempatnya. Ditegakkan. Motif bisnis telah menghancurkan semuanya.
Membuat manusia kehilangan kemanusianya, membuat dokter melupakan sumpahnya dan warga yang sedang bertaruh nyawa menjadi peluang keuntungan bagi mereka. -dimas