Saturday, 18 November 2017

Gudang Cakung Tak Mampu Tampung Hasil Razia BTT

Rabu, 13 September 2017 — 23:36 WIB
Kondisi gudang penyimpanan Satpol PP yang dipenuhi barang sitaan hasil razia. (Ifand)

Kondisi gudang penyimpanan Satpol PP yang dipenuhi barang sitaan hasil razia. (Ifand)

JAKARTA (Pos Kota) – Bulan tertib trotoar (BTT) yang digalakkan pemerintah provinsi (pemprov) DKI Jakarta, sejak awal Agustus lalu, menghasilkan 2.126 barang lapak pedagang kaki lima disita. Akibatnya, gudang penyimpanan barang satpol PP di Jalan Tipar Cakung, Cakung, Jakarta Timur, tak mampu lagi menampung.

Pantauan di lokasi, gudang penyimpanan barang satpol PP itu sendiri sudah dipenuhi berbagai jenis barang hasil razia. Mulai dari gerobak, kompresor tambal ban, lemari pendingin, hingga berbagai perlengkapan dagang, terlihat berserakan. Tak hanya itu, beberapa produk makanan juga terlihat tumpah ke tanah akibat kondisi gerobak yang berhimpitan.

Kepala gudang satpol PP, Mahmuri mengatakan, selama pelaksaan BTT memang terjadi peningkatan yang sangat luar biasa. Bila dijumlahkan, selama Agustus kemarin, pihaknya menerima 2.126 barang lapak pedagang kaki lima. “Angka itu terus bertambah karena BTT sendiri pada September ini dilanjutkan,” katanya, Rabu (13/9).

Banyaknya barang sitaan itu sendiri, kata Mahmuri, karena sebagian besar penertiban yang dilakukan di DKI kerap mengirim hasil operasinya ke gudang satpol PP, Cakung. Masih banyaknya barang pedagang yang sejak tahun 2015 lalu tak juga diambil, membuat tumpukan semakin bertambah. “Yang jelas, sejak operasi BTT ini peningkatan mencapai dua kali lipat. Dan kami rasa sudah tak cukup lagi menampung,” ujarnya.

Selain barang dagangan dan gerobak-gerobak, tumpukan bekas pembongkaran jembatan penyebrangan orang (JPO) juga membuat gudang semakin tak sanggup menampung. Meski luas lahan gudang mencapai 4 hektar, namun tak ada lagi lahan yang tersisa. “Dibelakang gedung juga masih banyak tumpukan becak hasil razia sejak beberapa tahun lalu,” ungkap Mahmuri.

Mahmuri juga menyebut, pihaknya tak bisa berbuat banyak untuk memindahkan atau memusnahkan barang-barang hasil sitaan tersebut. Pasalnya, si pemilik biasanya akan mengambil lapak jualannya, bila sudah menjalani sidang tipiring. “Namun ada juga yang sampai saat ini tak mengambil, kita mau musnahkan takutnya mereka datang. Makanya selama ini kita hanya menunggu,” pungkasnya. (Ifand)