Saturday, 23 September 2017

Tim Catur Indonesia Takluk dari Filipina, Tapi Puas Dalam Pembinaan

Rabu, 13 September 2017 — 9:16 WIB
Atlit catur Indonesia-Filipina usai duel match. (rizal)

Atlit catur Indonesia-Filipina usai duel match. (rizal)

BEKASI (Pos Kota) – Setelah tiga hari pecatur muda bertarung, akhirnya tim catur Indonesia takluk dari Filipina pada duel bertajuk The Future Champions Chess Match 2017.

Master Internasional (IM) Novendra Priasmoro dan kawan-kawan kalah dengan total poin, 22-26. Pada ajang ini, kedua tim diperkuat masing-masing delapan pecatur.

Mereka menjalani laga selama enam babak, untuk kategori catur standar dan cepat, sejak 9 September 2017 di Sekolah Catur Utut Adianto (SCUA), Bekasi. Pada ronde terakhir atau keenam yang memakai catur cepat, Selasa (12/9), Indonesia memiliki peluang untuk menjuarai turnamen.

Poin saat itu masih berimbang, 20-20.Namun beberapa pecatur Indonesia terlihat terburu-buru untuk segera menyudahi permainan. Imbasnya, empat atlet kalah, sedangkan empat lainnya bermain remis. Jadi, Indonesia hanya mengumpulkan dua poin, sementara Filipina enam poin.

Dengan hasil ini, Novendra Priasmoro Cs hanya memperoleh poin akhir 22, sedangkan Filipina 26. Dewan Pembina PB Percasi Eka Putra Wirya yang ikut memantau permainan, mengakui para pecatur Indonesia terlihat terburu-buru di babak terakhir. Padahal jika bisa fokus, mereka diyakini bisa mengimbangi, bahkan mengalahkan Filipina.

Dewan Pembina PB Percasi, Eka Putera Wirya, tetap puas meski atlit catur muda Indonesia takluk. Menurutnya, masih banyak waktu untuk berbenah diri. Apa lagi, katanya, turnemen ‘future Champion chess match’ ini digelar dengan maksud memberikan pengalaman bagi atlit muda catur untuk bisa tampil dalam turnamen yang secara kualitas memiliki peluang menjadi juara catur dunia di masa depan.

“Para pemain masih terbawa euforia karena menang di babak kelima. Harusnya mereka di atas angin, lawan jadi tertekan. Tapi karena euforia ini, pemain jadi tidak fokus dan buru-buru ingin menang. Hasilnya, mereka malah kalah,” ujar Eka Putra.

Eka mengatakan, mental para pemain terasah dan pengalaman bertanding kian bertambah. Apalagi, para pecatur yang diturunkan ini merupakan atlet yunior yang masih duduk di bangku SD hingga SMA.

“Melihat atlet-atlet ini, kita punya potensi yang luar biasa. Tidak gampang memang untuk membuat atlet berprestasi, semua ada proses, tidak instan,” ucapnya.
(rizal/sir)