Saturday, 23 September 2017

BNN: 53 Remaja Kejang Akibat Obat PCC untuk Sakit Jantung

Kamis, 14 September 2017 — 12:39 WIB
Obat jenis PCC

Obat jenis PCC

JAKARTA (Pos Kota) РBadan Narkotika Nasional (BNN) memastikan obat yang menyebabkan 53 siswa di Kendari kejang-kejang, bukan jenis narkotika baru yang disebut flaka. BNN  menyebut, obat yang dikonsumsi siswa yang satu di antaranya tewas, adalah obat dengan dosis tinggi untuk sakit jantung.

Deputi pemberantasan BNN, Irjen Arman Depari, mengatakan, pihaknya melalui BNNP Sulawesi Tenggara dan BNNK Kendari sudah mengecek obat yang bertuliskan (PCC) Paracetamol Cafein Carisoprodol.

“Dari hasil pemeriksaan obat tersebut diketahui obat itu merupakan obat dosis keras untuk penyakit jantung,” kata Irjen Arman Depari, Kamis (14/9).

Menurut Arman, obat tersebut biasa dijual di apotik-apotik namun harus menggunakan resep dokter. Terlebih, obat tersebut digunakan para penderita jantung untuk menghilangkan rasa sakitnya. “Obat itu biasa dijual di apotek dengan harga Rp20 ribu untuk 20 butir atau satu papan,” ujarnya.

(Baca:Obat Dari Orang Tak Dikenal, Polda Metro Jaya Imbau Orangtua Awasi Anaknya)

Hingga saat ini, kata Arman, pihaknya juga masih terus berkordinasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Pusat dan BPOM wilayah Sulawesi, untuk memeriksa kandungan obat lebih dalam. Sementara perkembangan terakhir, satu pelaku yang diduga sebagai pengedar obat tersebut sudah diamankan. “Pemeriksaan mendalam masih terus dilakukan, bila perlu tim dari BNN pusat juga akan dikirim,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, puluhan remaja di Kendari yang dilarikan ke Rumah Sakit Jiwa karena berprilaku aneh, hingga tak sadarkan diri akibat menenggak obat terlarang. Para korban diketahui meminum obat yang disebut PCC yang didapat secara gratis dari oknum yang mereka tidak kenal.

Berdasarkan informasi yang didapay, hingga kini jumlah korban yang memiliki gejala serupa sudah mencapai 53 orang, dan seorang siswa kelas 6 SD dinyatakan meninggal dunia, akibat mengkonsumsi obat tersebut. Petugas kepolisian dan BNN memburu pelaku yang sengaja memberikan obat tersebut. (Ifand/win)