Saturday, 23 September 2017

CINA DAN AMERIKA

Kamis, 14 September 2017 — 7:44 WIB

Oleh H. Harmoko

APA yang sesungguhnya terjadi di Indonesia dewasa ini? Petikan rekomendasi CFR (Council of Foregin Relations) ini mungkin bisa agak memberi ilustrasi.

Rekomendasi itu dirilis Mei 2001, ditujukan kepada Presiden George W Bush sebagai bahan penyusunan arah kebijakan strategis Gedung Putih di Asia Tenggara. Rekomendasi dikaitkan dengan persaingan global antara AS dan Cina yang semakin memanas di kawasan Laut Cina Selatan dan Selat Malaka.

CFR menekankan bahwa untuk melawan pengaruh Cina yang makin membesar di Asia Tenggara, khususnya Laut Cina Selatan yang bernilai sangat strategis, Amerika harus mengambil langkah-langkah yang lebih jelas dan lebih tegas.

“This is a timely moment for your administration to focus on a region that too often in the past has fallen off our country radar screens, always to our peril,” tulis CSR kepada Bush. (“Waktunya tepat sekali bagi pemerintahan Anda untuk memfokuskan perhatian terhadap suatu kawasan yang selama ini acapkali terabaikan dari perhatian kita, yang akibatnya selalu menimbulkan bencana bagi kita.”)

Simak bagian lain rekomendasi CFR tersebut: “Yang perlu diperhatikan secara khusus adalah cadangan minyak dan gas bumi serta tingkat produksi di Indonesia dan Brunei. Indonesia adalah satu-satunya anggota OPEC yang mengekspor 20% dari produk LNG dunia, sedangkan cadangan yang dimilikinya belum sepenuhnya diketahui. Ladang minyak dan gas bumi terus ditemukan di sana, di Malaysia, di Vietnam, dan di Filipina.”

Karena itu, dalam rekomendasinya, CFR menekankan pentingnya menguasai kawasan ini sehingga kontrol atas alur laut yang mempunyai nilai kunci atau choke points di seluruh Asia Tenggara dan hal itu akan menempatkan Washington pada posisi yang mampu menekan Cina.

“Dengan memperkuat kehadiran militer di kawasan ini, Amerika Serikat akan mampu menghadapi tantangan klaim Cina di Laut Cina Selatan dan pulau-pulau yang dipersengketakan seperti Spraley dan Paracel.”

Paragraf ini menjelaskan secara benderang bahwa fokus utama dan sasaran strategis Washington adalah penguasaan cadangan minyak dan gas bumi yang diprediksi punya kandungan yang cukup besar di wilayah-wilayah yang berada di jalur Laut Cina Selatan.

Sisi menarik dari modus operandi kehadiran militer AS yang luput dari amatan dan liputan media massa kita adalah terumuskan dalam dokumen CFR ini: “Amerika Serikat harus memelihara kehadiran kekuatan militer yang andal melalui suatu program latihan bersama sekawasan yang didukung oleh infrastruktur yang efektif.”

Karena itu, sudah sewajarnya Indonesia mewaspadai segala macam aksi di bawah permukaan maupun gerakan perang asimetris yang dilakukan oleh AS di kawasan Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, dewasa ini. ( * )