Friday, 24 November 2017

Ini Kronologis OTT Bupati Batubara oleh KPK

Kamis, 14 September 2017 — 21:14 WIB
Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan. (rihadin)

Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan. (rihadin)

JAKARTA (Pos Kota) – Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Basaria Panjaitan mengatakan, penangkapan Bupati Batubara, OK Arya Zulkarnaen, melalui operasi tangkap tangan (OTT) dilakukan berdasarkan laporan masyarakat.

Pihaknya menerima informasi soal dugaan penerimaan suap oleh bupati terkait pekerjaan pembangunan infrastruktur di Kabupaten Batubara Tahun Anggaran 2017.

“Kami sampaikan terima kasih atas partisipasi masyarakat yang menyampaikan laporan kepada KPK tentang akan terjadinya transaksi suap, KPK melakukan pengecekan dan menindaklanjuti laporan tersebut hingga dilakukan OTT di Kabupaten Batubara, Sumatera Utara,” kata Basaria, di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (14/9/2017).

Dalam OTT yang berlangsung kemarin , Basaria menceritakan, delapan orang diamankan oleh tim Satgas Penindakan KPK. Mereka adalah Bupati Batubara OK Arya Zulkarnaen (OKA), Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pemkab Batubara Helman Herdady (HH), Sujendi Tarsono alias Ayen (STR/ pemilik dealer mobil), dua orang kontraktor, Maringan Situmorang (MAS) dan Syaiful Azhar (SAZ), Staf Pemkab Batubara Agus Salim (AGS), seorang swasta Khairil Anwar (KHA) dan sopir istri Bupati, Muhammad Noor (MNR).

Awalnya, kata Basaria, Selasa (12/9/2017), diketahui Bupati OKA meminta STR agar menyiapkan uang Rp250 juta yang akan diambil oleh KHA pada Rabu (13/9/2017) di diler mobil milik STR di daerah Petisah Kota Medan.

“Tanggal 13 September 2017, sekitar pukul 12:44 WIB, KHA masuk ke diler mobil milik STR dan tidak lama keluar sambil menenteng kantong kresek berwarna hitam,” kata Basaria.

Tim KPK kemudian mengikuti mobil KHA dan mengamankan KHA di jalan menuju daerah Amplas, Medan Sumatera Utara. “Di dalam mobil itu tim mendapatkan uang tunai senilai Rp250 juta yang dimasukkan dalam kantong kresek berwarna hitam.”

Kemudian KHA dibawa oleh tim KPK kembali ke diler mobil milik STR dan mengamankan STR bersama dua karyawannya. Keempatnya kemudian dibawa ke Polda Sumut untuk dimintai keterangan.

Setelah itu, sekitar pukul 13:00 WIB tim mengamankan MAS (kontraktor) di rumahnya di Kota Medan. Sore menjelang magrib, tim kemudian mengamankan kontraktor lainnya yaitu SAZ di rumahnya di Kecamatan Medan Sunggal Kota Medan.

Selanjutnya, tim KPK juga bergerak untuk mengamankan HH (Kadis PUPR) di rumahnya di Kota Medan. Sementara di Kabupaten Batubara, pukul 15:00 WIB, tim KPK lainnya mengamankan Bupati OKA beserta sopir istrinya, MNR, di rumah dinas bupati.

“Dari tangan MNR diamankan uang tunai senilai Rp96 juta yang diduga sisa dana yang ditransfer dari STR kepada AGS atas permintaan bupati 12 September 2017 sebesar Rp100 juta,” beber Basaria.

Setelah itu, tim bergerak untuk mengamankan AGS di rumahnya di Kabupaten Batubara dan ditemukan buku tabungan BRI atas nama AGS yang berisikan transfer uang. Delapan orang yang diamankan tersebut kemudian menjalani pemeriksaan di Mapolda Sumut sebelum akhirnya diterbangkan ke Jakarta untuk diperiksa intensif di Markas KPK.

“Tim beserta para pihak yang diamankan tiba di kantor KPK sekitar pukul 01:00 dini hari tadi,” imbuh Basaria.

Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata menambahkan, dalam OTT total uang yang diamankan senilai Rp346 juta. “Uang tersebut diduga bagian dari fee proyek senilai total Rp4,4 miliar yang diduga diterima oleh Bupati Batubara melalui para perantara terkait beberapa pekerjaan pembangunan infrastruktur di Kabupaten Batubara Tahun Anggaran 2017,” ungkapnya.

Ia memaparkan, dari kontraktor Maringan, diduga pemberian fee sebesar Rp4 miliar terkait dua proyek. Yaitu pembangunan jembatan Sentang senilai Rp32 miliar yang dimenangkan oleh PT GMJ dan proyek pembangunan jembatan Sei Magung senilai Rp12 miliar yang dimenangkan oleh PT T.
“Barang bukti Rp346 juta dalam OTT ini diduga merupakan bagian dari fee terkait dua proyek ini,” paparnya.

Selain itu dari kontraktor Syaiful diduga pemberian fee sebesar Rp400 juta terkait dengan proyek betonisasi jalan Kecamatan Talawi senilai Rp3,2 miliar.

“Untuk kepentingan penyidikan, tim juga menyegel sejumlah ruangan di beberapa lokasi yaitu rumah dinas Bupati Batubara, rumah tersangka MAS, dan kantor dealer mobil milik STR,” imbuhnya.

Lima orang kemudian ditetapkan tersangka. Yakni Bupati OKA, Kadis HH dan pemilik diler STR sebagai tersangka penerima suap. Kemudian dua kontraktor MAS dan SAZ sebagai tersangka pemberi suap. (julian)