Thursday, 23 November 2017

Polisi ASEAN Apresiasi Polri Ungkap Perdagangan Manusia di Pulau Rote

Kamis, 14 September 2017 — 14:49 WIB
Kabareskrim Polri Komjen Pol Ari Dono Sukmanto (yendhi)

Kabareskrim Polri Komjen Pol Ari Dono Sukmanto (yendhi)

JAKARTA (Pos Kota) – Sejumlah kasus kejahatan kemanusiaan oleh Polri disorot negara ASEAN. Salah satunya terungkapnya kejahatan perdagangan manusia di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam konferensi ASEANAPOL ke-37 di Singapura, meminta Indonesia memaparkan keberhasilan pengungkapan kasus itu.

“Keberhasilan Polri mendapat apresiasi dari seluruh delegasi dalam ASEANAPOL sekaligus sama-sama belajar agar secara bersama berhasil mengungkap salah satu jenis kejahatan transnasional ini,” kata Kabareskrim Komjen Pol. Ari Dono Sukmanto dalam rilis yang diterima wartawan, Kamis (14/09/2017).

 
Berdasarkan data, kasus itu bermula pada Minggu (31/05/2015) lalu saat dua kapal bermotor pengangkut imigran di Pulau Lanu, Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT) terdampar. Kedua kapal itu ternyata mengangkut imigran sebanyak 65 orang yang terdiri dari 10 orang warga negara Bangladesh, 1 orang warga negara Myanmar dan 54 warga negara Srilangka.

Para korban itu berangkat dari Tegal, Jawa Tengah, dengan tujuan ke Selandia Baru. Saat memasuki perairan Australia, dicegat oleh petugas perbatasan dan didorong sampai ke perbatasan Indonesia lalu terdampar di Pulau Rote, NTT. “Pengakuan para korban, mereka diselundupkan untuk mencari kehidupan yang lebih baik di negara baru karena di negara asalnya, mereka merasa terancam kehidupannya,” terang Ari.

Polri akhirnya berhasil mengungkap sekaligus menangkap sindikat yang mengorganisir penyelundupan manusia tersebut yang dikendalikan oleh Thines Khumar dan Abrham Louhenapessy alias Kapten Bram. Pengadilan akhirnya memvonis mereka karena telah melanggar Undang-undang Keimigrasian dengan kurungan masing-masing lima tahunan.

“Para korban membayar sindikat sebesar 4.000 Dolar Amerika sampai dengan 8.000 Dolar Amerika. Para pelaku, mendapat keuntungan haram mereka sekira 325.000 Dollar Amerika atau setara Rp4 miliar,” jelas Ari.

Meski demikian, penyidikan dan penyelidikan Polri menemukan fakta lain yang berangkat dari penelusuran rekening dari koordinator sindikat yaitu Thines Kumar yang memang dikenakan juga pasal Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) itu.

“Saat ini sudah ada kejelasan dan penyidik kembali menelusuri subyek rekening yang terafiliasi dengan sindikat Thines Kumar itu. Mengerucut pada seorang warga negara Srilangka,” lanjut Ari.

Polri sendiri, tambah Ari, telah bekerjasama dengan berbagai pihak baik di dalam negeri dan luar negeri. Salah satunya dengan Interpol agar menerbitkan red notice dan dengan Australian Federal Police (AFP) agar menerbitkan blue notice terhadap terduga asal Srilanka itu.

(adji/sir)