Thursday, 19 October 2017

Menormalkan yang Tidak Normal

Sabtu, 16 September 2017 — 6:48 WIB
dulllll

0leh S. Saiful Rahim
“NAH, itu Dul Karung datang. Mari kita tanya dia!“ kata seorang pelanggan warung kopi Mas Wargo ketika mendengar ucapan salam Dul Karung.

“Silakan, silakan. Mau tanya apa saja boleh, dan insya Allah akan kujawab dengan baik dan benar, ” sambut Dul Karung sambil meletakkan bokong dan mencomot singkong goreng yang masih kebul-kebul.

“Orang-orang Betawi sebaya kakek kita, kalau mengobrol sering menyebut zaman penjajahan Belanda di negeri kita ini sebagai zaman normal. Apa sih normal menurut beliau-beliau itu?” tanya orang yang duduk di kanan Dul Karung dan baru saja bergeser memberi tempat Dul Karung duduk.

“Waduh! Aku memang sering mendengar kata ‘zaman normal’ disebut-sebut kalau engkong dan nyaiku, atau dengan teman-teman beliau, sedang mengobrol. Tapi aku tidak pernah bertanya apa yang beliau maksudkan dengan zaman normal itu,” jawab Dul Karung.

“Apa itu engkong dan nyai?” potong orang duduk di ujung kiri bangku panjang, sehingga Dul Karung urung melanjutkan omongannnya.

“Engkong itu sebutan orang Betawi untuk kakek. Dan Nyai itu nenek,” sela orang yang entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Lalu mengapa mereka menyebut zaman penjajahan sebagai zaman normal? Itu kan sesuatu yang tidak normal. Bahkan sangat dan mahasangat tidak normal,” sergah orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang dengan nada suara sarat protes.

“Rasanya bukan kakek-kakek dan nenek-nenek orang Betawi saja yang pengertiannya jungkir balik soal normal dan tidak normal. Orang sezaman dengan kita sekarang pun begitu juga,” komentar orang bersurjan duduk selang tiga di kiri Dul Karung.

“Maksud, Mas?” tanya Mas Wargo yang rupanya tertarik pada ucapan orang berpenampilan meyakinkan mereka satu suku.

“Terus terang, saya ini orang dusun asli yang bodoh.Karena itu saya ikhlas tidak mencangkul selama sehari penuh waktu pemilu dulu. Itu berarti penghasilan untuk makan sehari hilang. Ternyata orang-orang yang dipilih di DPR kerjanya mengurus kepentingan sendiri. Minta duit bermiliar-miliar, bahkan triliunan, untuk jalan-jalan ke luar negeri, untuk bikin rumah dan kantor baru dan untuk berkelahi dengan KPK. Mau saya, rakyat yang dulu ikut pemilu, kalau ada anggota, apalagi bosnya DPR dituduh maling, buktikan saja di pengadilan.

“Kalau nanti KPK main tuduh sembarangan saya akan ikut menyoraki paling keras. Lha wong yang dituduh itu orang yang menjadi wakil dan pilihan rakyat. Itu kan perbuatan tidak normal.

“Itu di tingkat tinggi. Di tingkat tengah, atau tengah bawah, ada anak-anak sekolah di Tangerang Selatan mengeroyok polisi yang sedang bertugas mengatur lalu lintas hingga luka parah. Itu juga kan perilaku tidak normal.

” Ada pula anak-anak muda biasa nongkrong di tempat yang diberi nama Rumah Tua Vape memburu dan membunuh anak muda lain yang mereka tuduh mencuri motor. Hebatnya, mereka berani menyebar sayembara di medsos. Isinya siapa saja yang bisa menangkap atau menunjukkan di mana orang yang mereka cari itu berada akan diberi hadiah Rp 5 juta. Syaratnya jangan dilaporkan ke polisi.

“Menurut saya, si rakyat kecil dan bodoh ini, semua itu kan perbuatan atau perilaku tidak normal. Dan masih banyak lagi hal lain yang tidak normal. Bila dibicarakan di warung ini sampai sebulan pun tidak bakal selesai,” kata orang bersurjan itu yang kemudian menyeruput kopi hitam pahit pesanannya.

“Belum lagi memperkirakan berapa besar biaya diperlukan untuk menormalisasi perilaku orang-orang yang ada dan menjadi warga negara ini. Padahal untuk menormalisasi tiga sungai di Ibu Kota Jakarta, menurut Kepala Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta, diperlukan biaya Rp 1,3 triliun. Tapi yang disetujui DPRD Jakarta hanya Rp 437 miliar saja. Kata pepatah, jauh panggang dari api,” sambung Dul Karung seraya pergi meninggalkan warung kopi Mas Wargo begitu saja. (syahsr@gmail.com )*