Thursday, 23 November 2017

Duda Ganggu Istri Orang Diarak Bugil Sejauh 500 M

Senin, 18 September 2017 — 6:02 WIB
bugik

JADI duda itu memang kesepian sekali. Tapi jika sampai ganggu bini orang seperti Jumingan, 43, resikonya demikian berat. Bayangkan, habis mengencani Ny. Martiyah, 45, langsung diarak massa sejauh 500 meter. Yang sangat mengenaskan dan memalukan, Jumingan dalam kondisi bugil bin gidal-gidul.

Menjadi duda dalam usia 80 tahunan, takkan menemukan rasa sepi dalam hidup. Tapi jika hidup tanpa istri dalam usia 50 tahun ke bawah, woo……dunia menjadi demikian sepi seperti lagunya Kus Plus tahun 1970-an (Hidup yang sepi – Red). Biasanya tidur ada yang menemani, kini hanya gedabigan sendirian saja. Bayangkan, makan sendiri, mandi sendiri, bahkan mencuci juga sendiri, kayak iklan Rinso-nya Krisbiantoro.

Nasib Jumingan warga Kauman, Kabupaten Ponorogo belakangan ini juga seperti itu. Sejak bercerai dengan bininya setahun lalu, dia terpaksa solo karier menjalani hidup. Banyak juga sebetulnya yang diincer, tapi para janda itu hanya memandang dengan sebelah mata. Maklum, Jumingan ini bukan duren alias duda keren. Dia petani biasa yang mencari nafkah mengandalkan tenaga, bukan otaknya.

Sekitar 6 bulan lalu dia berkenalan dengan Martiyah, warga Sukorej. Entah kenapa, tiba-tiba saja dia cocok dengan perempuan itu, meski Martiyah masih punya suami. Yang menambah daya tarik perempuan itu, bukan saja bodi dan wajahnya, tapi juga status perkawinannya. Kini Martiyah sudah pisah ranjang, karena masih proses cerai di Pengadilan Agama.

Ibarat mobil, jangan sampai keduluan peminat lain, buru-buru Jumingan memepetnya. Dia sering mengapeli perempuan itu ke rumahnya. Suaminya, Wagino, 50, mendiamkan saja karena memang tidak tahu. Dia sendiri sudah tidak tinggal di rumah yang sama, sehingga hal itu menjadikan Ny. Martiyah bebas lepas mencari pasangan sebagai suami pengganti.

Rupanya Martiyah juga cocok pada duda ini. Meski Jumingan hanya pekerja kasar yang mengandakan tenaga, tapi Martiyah yakin bahwa lelaki ini masih memiliki tenaga kuda yang bisa diandalkan. “Tongkrongannya saja begitu, apa lagi tangkringannya, pasti sangat memuaskan,” begitu pikir Martiyah.

Pada kunjungan yang ke-5, Jumingan makin berani, dan Martiyah juga makin terbuka. Bukan saja terbuka hatinya, tapi juga terbuka roknya sekalian. Sebab ketika Jumingan kemudian mengajak hubungan intim bak suami istri, dia melayani saja. Sebab Martiyah sendiri juga sudah lama tidak memperoleh kehangatan malam. “Saya sudah lama tak begini lho Mas,” kata Martiyah sepertinya memberi semangat Jumingan.

Karena Martiyah memang sudah berusia di atas kepala empat, dia melayani Jumingan secara “terjun bebas” saja tanpa penangkal alat kontrasepsi. Padahal, meski aman dari ancaman kehamilan, tapi tidak aman dari ancaman warga. Sebab jangan dikira, sudah beberapa hari ini penduduk mencurigai kunjungan Jumingan yang semakin intensif.

Hari apes itu terjadi beberapa hari lalu. Ketika Martiyah – Jumingan sedang bergulat antara hidup dan mati, tiba-tiba rumah digedor warga. Meski Jumingan sudah berpakaian, meski kancing baju salah-salah, tetap saja dipaksa telanjang bulat. Bersama pasangannya, mereka diarak ke balai desa dalam kondisi bugil sehingga nampak gidal-gidul seperti balita mandi sore. Urusan selanjutnya ditangani polisi, tapi para pengaraknya juga tak luput dari pengusutan, karena sama saja penduduk telah main hakim sendiri.

Hakim yang asli bisa nganggur nantinya. (BJ/Gunarso TS)