Saturday, 20 January 2018

Jika Kepala Daerah Ditangkapi KPK, Pembangunan Bisa-bisa Tak Jalan

Selasa, 19 September 2017 — 18:39 WIB
WAKIL Ketua Komisi II DPR RI, Yandri Susanto (timyadi)

WAKIL Ketua Komisi II DPR RI, Yandri Susanto (timyadi)

JAKARTA (Pos Kota) – Wakil Ketua Komisi II DPR, Yandri Susanto, mengatakan, republik ini akan mengalami kegoncangan jika seluruh kepala daerah ditangkapi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus korupsi.

“Kalau ditangkap semua, goncang juga republik ini, karena pembangunan bisa-bisa tidak berjalan, ” kata Yandri di DPR, Selasa, (19/9).

Menurut Yandri, kasus korupsi oleh kepala daerah mayoritas terjadi lantaran adanya “hutang budi”, yakni kepada pihak tertentu saat yang bersangkutan akan maju dalam pemilihan kepada pihak-pihak tertentu.

Hutang budi tersebut terkait adanya sejumlah dana yang dibutuhkan untuk berkampanye. Karena sang calon kepala daerah harus menyerahkan sejumlah dana kepada partai politik agar mendapat dukungan.

Menurut Yandri, Undang-undang Nomor 10 Tahun 2012 tidak terlalu tegas dalam mengatur terkait pemberian “mahar” kepada partai politik.

Seharusnya, ujar Yandri, undang-undang tersebut benar-benar melarang adanya mahar kepada pihak manapun. “Di undang-undang 10/12 itu enggak terlalu tegas,” ujar Yandri.

Terkait biaya kampanye ini juga, Yandri menggambarkan betapa “harap” nya masyarakat terhadap “sesuatu” kepada calon kepala daerah yang melakukan kampanye.

“Apa mau masyarakat mengikuti suatu kampanye jika tidak diberi uang transport. Mereka bisa mengatakan bahwa datang ke tempat kampanye kan pakai bensin bukan air. Mereka harus meninggalkan sawah ladang, sedangkan jika bekerja di ladang atau sawa bisa menghasilkan uang sekian rupiah seharinya,” jelas Yandri.

Pengamat Politik, Pangi Syarwi Chaniago mendesak agar pemerintah melegalkan saja biaya mahar yang dilakukan oleh calon kepala daerah kepada partai politik. Dengan cara itu diharapkan tidak akan ada lagi “hutang budi” sang kepala daerah kepada donatur. “Bagi saya legalkan saja,” kata Pangi. (timyadi/win)