Thursday, 23 November 2017

Wakapolri: Konflik Semenanjung Korea Ancam Stabilitas ASEAN

Rabu, 20 September 2017 — 16:15 WIB
Wakapolri Komjen Syafruddin

Wakapolri Komjen Syafruddin

JAKARTA (Pos Kota) – Wakapolri Komjen Syafruddin mengingatkan, memanasnya konflik Semenanjung Korea dapat mengancam stabilitas kawasan Asia Tenggara. Rabu (20/9).

Wakapolri mendesak perlunya kerjasama transnasional dalam mencegah berbagai ancaman dan tantangan bagi stabilitas keamanan di Asia Tenggara, terutama keamanan maritim. Mantan Kalemdiklat Polri menyampaikan hal tersebut pada hari kedua dalam acara Asean Ministerial Meeting on Transnasional Crime (AMMTC) di Filipina sejak 18-21 September 2017.

Menurutnya, dalam acara itu ada isu aktual yang dibahas terkait kejahatan transnasional yang menjadi ancaman dan tantangan bagi stabilitas keamanan di Asia Tenggara. “Antara lain isu keamanan Laut China Selatan, isu semenanjung Korea, terorisme khususnya FTF (Foreign Terrorist Fighters), keamanan di perbatasan, penyelundupan senjata, orang, kayu dan satwa serta cyber crime,” kata Syafruddin melalui rilisnya, Rabu (20/9/2017).

Upaya Indonesia mencegah dan memberantas kejahatan transnasional baik pada level nasional maupun kawasan. Ia menjelaskan Indonesia memfinalisasi proses ratifikasi Konvensi ACTIP (ASEAN Convention Against Trafficking in Person) untuk melengkapi upaya yang telah dilakukan selama ini dalam memberantas kejahatan perdagangan manusia serta penyelundupan orang.

“Indonesia juga rentan terhadap penyelundupan satwa dan kayu, sehingga perlu mendorong diselenggarakannya Working Group on Illicit Trafficking in Wildlife and Timber sebagai kerangka atau basis kerjasama kawasan yang terfokus untuk menaggulangi permasalahan ini,” ujarnya.

Kemudian, kata Syafruddin, terkait kerjasama keamanan maritim belum ada mekanisme ASEAN yang kuat terkait isu IUU Fishing sebagai tantangan baru bagi keamanan maritim non-tradisional.

“Sehingga perlu ada pendekatan yang komprehensif dan holistik melalui pendayagunaan kerangka hukum dan aspek kemanan,” jelas dia.Terkait terorisme, kata dia, penyebaran ISIS di kawasan ASEAN rentan dijadikan sebagai area pelatihan oleh jaringan terorisme. Maka dibutuhkan tanggungjawab bersama seluruh negara untuk meningkatkan kerjasama pencegahan dan pemberantasan terorisme di kawasan. ‎
“Terkait narkoba, Indonesia telah menginvestigasi lebih dari 47.000 kasus narkoba yang diantaranya banyak melibatkan sindikat internasional,” katanya.

(adji/sir)