Monday, 23 October 2017

PENGKHIANATAN PKI

Senin, 25 September 2017 — 6:11 WIB

Oleh H. Harmoko

BENAR kata Pak Try Sutrisno, kita tidak perlu melakukan rekonsiliasi dengan PKI dan pendukungnya. Mengapa? Karena, PKI jelas telah berkhianat kepada bangsa dan negara.
Sejumlah aksi pengkhianatan mereka lakukan tak saja pada tahun 1965, tetapi juga tahun-tahun sebelumnya. Aksi itu mereka lakukan dengan berbagai cara, baik secara legal maupun ilegal. Mari kita catatan sejarah kelam ini.

Untuk mencari simpati rakyat dan mengacaukan kedudukan lawan-lawan politik, PKI melancarkan berbagai aksi atau teror secara sepihak. Tahun 1948 mereka melakukan pemberontakan yang dikenal sebagai Peristiwa Madiun. Upaya ini gagal, tetapi pada tahun-tahun berikitnya mereka terus melakukan aksi-aksi teror.

1. Peristiwa Magetan (September 1948): PKI menculik kiai di Pesantren Takeran, Magetan. KH Sulaiman Zuhdi Affandi digelandang secara keji dan dikubur hidup-hidup di sumur pembantaian Desa Koco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan. Di sumur tersebut ditemukan 108 kerangka jenazah korban kebiadaban PKI. Selain itu, ratusan orang ditangkap dan dibantai PKI di Pabrik Gula Gorang Gareng.

2. Peristiwa Jengkol (November 19610: PKI mengerahkan anggota-anggotanya untuk merebut tanah perkebunan negara, dipelopori oleh BTI (Barisan Tani Indonesia), Pemuda Rakyat, dan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Tanah itu kemudian dibagi-bagikan kepada rakyat anggota PKI, tanpa memperhitungkan siapa pemilih tanah tersebut. Dalam peristiwa itu banyak jatuh korban, terutama rakyat tidak berdosa. Mereka juga memusuhi imam-imam masjid dan orang-orang yang taat beribadah. Banyak imam masjid dan orang-orang Islam dibunuh secara kejam.

3. Peristiwa Indramayu (Oktober 1964): PKI melakukan aksi pengeroyokan kepada tujuh anggota polisi kehutanan di Indramayu.

4. Peristiwa Boyolali (Februari 1964): PKI melakukan aksi sepihak berdalih memperjuangkan UU Pokok Agraria dan UU Bagi Hasil. Mereka melakukan pematokan tanah-tanah orang PNI yang memancing kemarahan para pemilik tanah.

5. Demonstrasi Anti-Amerika di Jakarta (Desember 1964): PKI memprotes kehadiran USIS (United State Information Service/Kantor Penerangan Amerika) dan mengusir Dubes AS dari Indonesia.

6. Peristiwa Kanigoro di Kediri (13 Januari 1965): PKI menyerbu pelajar Islam, para santri, para kiai, dan tempat ibadah di Kanigoro. Mereka melakukan aksi pembunuhan.

7. Peristiwa Bandar Betsi di Simalungun (14 Mei 1965): PKI melakukan aksi penyerobotan lahan kebun milik negara dan memicu peristiwa berdarah yang merenggut nyawa perwira pengaman kebun itu.

Untuk kepentingan aksi-aksinya, Ketua Comittee Central PKI, Dipa Nusantara Aidit, pertengahan Januari 1965 mengajukan tuntutan kepada pemerintah agar mempersenjatai kaum buruh dan petani. Tuntutan ini didasarkan pada konsep pembentukan angkatan kelima (setelah AD, AL, AU, dan Angkatan Kepolisian).

Tuntutan itu ditentang keras oleh tokoh-tokoh TNI AD, antara lain Jenderal Ahmad Yani. Setelah gagal membentuk angkatan kelima, menggunakan kedok mempersiapkan pasukan sukarelawan untuk Dwikora, PKI secara terang-terangan melatih para anggota Pemuda Rakyat dan Gerwani.

Pelatihan keterampilan teknis militer menggunakan senjata dan berperang itu dilakukan di sekitar Lubang Buaya, Pondok Gede, menggunakan fasilitas, senjata, dan tenaga-tenaga pelatih dari oknum-oknum Angkatan Udara Republik Indonesia.

Puncak aksi mereka terjadi pada tanggal 30 September 1965. Mereka menculik dan membunuh tujuh jenderal yaitu Jendral TNI Ahmad Yani, Letjen TNI MT Haryono, Letjen TNI S Parman, Letjen TNI Suprapto, Mayjen TNI Sutoyo, Mayjen TNI DI Panjaitan, dan Jenderal AH Nasution yang berhasil lolos sehingga ajudannya Letnan Pierre Tandean diculik dan dibunuh.

Selang sehari, 1 Oktober 1965, para pelaku pemberontakan itu diringkus. Ketujuh korban penculikan dan pembunuhan ditemukan di kawasan Lubang Buaya, Pondok Gede.

Serangkaian fakta itu sekarang mau mereka putar-balikkan seolah mereka sebagai korban? Para generasi muda harus memahami sejarah ini, agar tidak menjadi korban pemutarbalikan fakta yang memang telah menjadi karakter orang-orang komunis di Indonesia. Waspadalah! ( * )