Monday, 23 October 2017

NIKAH SIRI

Kamis, 28 September 2017 — 6:46 WIB

Oleh H. Harmoko

DALAM ajaran Islam nikah siri itu dibolehkan. Tentu, dengan syarat-syarat tertentu yang tak boleh melanggar akidah. Ketika kemudian ada pernikahan siri menjadi pergunjingan dan perdebatan, tentu ada masalah di sana.

Kata siri dari bahasa Arab yang berarti rahasia atau sembunyi-sembunyi. Nikah siri berarti tidak seperti pernikahan normal pada umumnya, tidak tercatat di KUA.

Pergunjingan soal ini kembali ramai, setelah ada orang membuka fasilitas layanan kawin siri secara daring (online). Hal ini mengingatkan kita tentang praktik nikah siri yang berlangsung di mana-mana.

Dalam realitas banyak varian kawin siri, termasuk kawin kontrak seperti yang terjadi di kawasan Puncak, Bogor. Nikah siri model kontrak ini, menurut para ulama, tidak sejalan dengan ajaran Islam karena tujuannya sudah melenceng dari tujuan pernikahan.

Meski secara prosedural “dianggap sah” menurut agama, praktiknya kerap merugikan perempuan. Pihak perempuan tidak punya bukti atau dokumen pernikahan, sehingga begitu terjadi masalah di kemudia hari mereka tidak bisa mengklaim hak-hak pernikahannya, termasuk hak untuk memiliki sejumlah properti bersama, misalnya. Belum lagi yang terkait dengah hak anak, perkawinan siri berpotensi melahirkan dampak buruk bagi si anak.

Hal yang sama terjadi pada layanan jasa nikah siri secara daring yang belakangan menjadi heboh itu. Meski telah dibungkus dengan berbagai pembenaran, dalam praktiknya layanan itu tak ubahnya dengan jasa prostitusi secara daring pada umumnya, menjadikan perempuan sebagai objek yang bisa diperjualbelikan.

Guna menanggulangi sekaligus mencegah wabah nikah siri, MUI perlu segera mengeluarkan fatwa tentang ini. Penegakan hukum juga perlu dilakukan. Hukum jangan sampai lengah menindak pelaku perdagangan seks berkedok nikah siri via internet atau lainnya.

Bagi anak muda atau generasi penerus bangsa, perlu senantiasa kita ingatkan agar mereka mengutamakan kualitas dalam membentuk keluarga, dengan cara menikah secara sah baik secara hukum agama maupun hukum negara. Ini penting, demi menghadapi tantangan hidup masa depan yang kian kompleks. Jangan sampai mereka salah kaprah dalam memaknai pernikahan.
Dengan begitu, kita bisa berharap bahwa ke depan kita ti─Ćak lagi disibukkan dengan hal-hal yang tidak penting seperi ini. Mudah-mudahan. ( * )