Tuesday, 20 November 2018

Bukan Lulusan Akpol, Tahan Marpaung jadi Kasatreskrim Polres Metro Jakarta Pusat

Kamis, 5 Oktober 2017 — 1:22 WIB
Tahan Marpaung

Tahan Marpaung

SEJAK kecil bercita-cita menjadi polisi. Meski banyak teman sebanyanya, kala itu melecehkan. Maklum dia anak seorang guru SMP terpencil di Desa Porsea, Tobasa, Sumatera Utara. Sedangkan prestasi sekolah biasa lantaran anak keempat dari sembilan saudara yang saban hari harus membantu orangtuanya. Selain itu postur juga biasa-biasanya.

Namun tekad kuat, kerja keras dan pantang menyerah, Tahan Marpaung mampu membuktikan dia bisa menjadi anggota Korps Bhayangkara. Bahkan kini dia dipercaya jabatan mentereng sebagai Kasatresrikm Polres Metro Jakarta Pusat. Jabatan prestisius yang direbutkan anggota Polri lulusan Akpol. Sedangkan Tahan Manurang hanya lulusan bintara SPN Jawa Timur 1987.

“Dulu teman-teman yang melecehkan itu, kini kalau ketemu saya, malu dan membungkuk badan lalu memberi homat,” ucapanya tertawa. Selepas menyandang pangkat bintara, Marpaung ditugaskan di jajaran Polres Metro Jakarta Pusat.

Kerja keras dan loyalitasnya yang tinggi, dia hanya beberapa bulan di tempatkan di satuan Shabara lalu dipindahkan ke Unit Reskrim. Di dunia keresesehan inilah kariernya meroket.

“Satu alasan utama saya menjadi polisi, mau berantas kejahatan,” katanya. Maklum dia, pernah trauma melihat tetangganya di Sumatera Utara dirampok dan harta bendanya dikuras. Tetangganya itu hanya petani, saat panen yang hanya tiga bulan sekali, uang hasil penjualan padi digarong penjahat. Sejak itu dia, benci dengan penjahat dan berjanji kelak jadi polisi hendak membamsi pelaku krinminal.

PERNAH DIBACOK

Awal 90-an, wilayah Jakarta Pusat termasuk rawan kejahatan. Bukan hanya di kawasan Senen yang meliputi teminal, stasiun dan pasar, tapi juga daerah lainnya seperti Kemayoran dan Tanah Abang sebagai tempat tumbuh dan bekembangnya premanisme dan prostitusi. Belum lagi kawasan Johar Baru sebagai daerah tinggalnya para penjahat.

Hampir setiap hari peristiwa kejahatan terjadi. Selama itu pula Tahan Manurung bergelut dan berjibaku melawan penjahat. “Hampir setiap pekan kita menangkap penjahat, tapi sepertinya tak pernah habis. Satu kita tangkap, muncul 10 penjahat,” kenangnya. Tak jarang pulang dia menerima tikaman atau bacokan dari pelaku kejahatan. Tapi, sudah banyak pula dari pistolnya, penjahat bergelimpangan ditembak.

Prinsip dia pegang di dunia keresesehan. “Jangan pulang sebelum menangkap pelaku kriminal,” katanya. Sebab itulah, saat diperintah mengejar penjahat, dia selalu berhasil. Setelah lebih 11 tahun bertugas, dia mendapat kepercayaan mengikuti pendidikan Sekolah Calon Perwira pada 2001.

PANGKAT ISTIMEWA

Dua minggu setelah menyandang pangkat Inspektur Dua (Ipda) Tahan Manurung dilibatkan dalam pemburuan putra orang penting di negeri ini yang mendalangi pembunuhaan seorang hakim.. Dia bersama timnya berhasil menangkapnya lalu diberi kenaikan pangkat istimewa. “Pangkat saya menjadi Iptu,” katanya.

Sejak itu dia tak pernah lepas dari keresesehan. Hingga akhirnya dia dipercaya memegang jabatan orang nomor satu di kereeseshan di Polres Jakarta Pusat. “Kejahatan di wilayah Jakarta Pusat unik, mulai tindak krimini maling sandal, perampokan nasabah bank, hingga pembunuhan orang terkenal kerap terjadi,” katanya. (silaen/iw)