Friday, 20 October 2017

Saat Duda Lagi Kehausan Bini Orang Diserobot Juga

Kamis, 5 Oktober 2017 — 7:20 WIB
arak

ORANG kehausan diberi air mineral pasti segar sekali. Tapi kalau haus asmara macam Jumino, 44, begitu nyosor bini orang malah dianiaya dan diarak telanjang bersama gendakannya, Ny. Sarini, 46. Untung Pak Kades segera menyelamatkan, Jumino diberi sarung, sehingga tak perlu gidal-gidul macam tarsan.

Hausnya orang karena kurang minum, tenggorokan terasa kering, badan jadi lemes karena terancam dehidrasi. Tapi jika haus karena asmara cinta, minum air mineral satu galon juga takkan sembuh. Obatnya hanya satu, bukan minum saribuah melainkan “minum” Sarini, yang tanpa sedotan pun jadi.

Nggak percaya, tanyakan pada Jumino warga Kauman, Kabupaten Ponorogo (Jatim). Dia merasakan benar segarnya Sarini yang asli didatangkan dari pegunungan. Sayangnya, Sarini yang bisa “diminum” tanpa sedotan itu masih milik orang, sehingga resikonya menjadi demikian berat.

Alkisah, Jumino sudah beberapa tahun lamanya hidup menduda. Dalam usia masih muda nan enerjik, puasa wanita barang 3-4 bulan masih betah. Tapi jika sampai bertahun-tahun, kepala bisa meleduk, dan rasa rindunya akan wanita bisa mengkristal jadi kemenyan. Kalau kristalnya gula pasir, enak dibuat medang teh ginastel. Lha kalau yang mengkristal rasa rindu, bagaimana harus mengantisipasinya?

Dalam kondisi gelisah nan risau tersebut, Jumono berkenalan dengan Sarini warga Sukorejo. Sekali pandang, di bawah langsung ada yang nendang-nendang. Meski usia sudah kepala empat seperti dirinya, tapi masih STNK. Rasanya masih enak digoyang dan perlu. “Mudah-mudahan saja dia berstarus janda, sendirian macam diriku.” Kata batin Jumino.

Harapan Jumino tidak terlalu meleset. Dari obrolan ngalor ngidul itu dapat informasi bahwa Sarini dalam kondisi statusquo. Sebab meski ada suami, kini sudah pisah ranjang karena sedang proses perceraian di Pengadilan Agama Ponorogo. Batin Jumino berandai-andai, jika surat cerai sudah terbir, hak oper garapnya segera bisa diurus. Nekad, perempuan cantik dianggapnya surat girik leter C saja.

Ketika Jumino minta izin main ke rumah, ternyata Sarini mengiyakan saja. Sepertinya dia menganggap biasa saja dalam kondisi yang riskan dan sensitip itu. Wah, peluangnya semakin besar saja. Batin Jumino kemudian, “Saya kan pria santun dan seiman, pasti sekali putaran langsung kena dia.”

Ketika suami tak di rumah, Sarini memberi lampu hijau untuk datang malam hari saja. Katanya, situasi di rumah sangat kondusif, mantap terkendalilah pokoknya. Berdasarkan informasi itu, dengan pedenya Jumino menghadiri undangan tidak resmi itu. Maklum, jadi duda kelamaan dendam rindunya terancam mengkristal.

Pukul 20.00 datang, tapi pukul 22 belum beranjak pulang. Bahkan saking ngebetnya, tanpa malu-malu Jumino minta agar koalisi itu ditindaklanjuti dengan eksekusi. Dasar sudah sama-sama kehausan, aset nasional yang resmi masih milik suaminya, malam itu diserahkan kepada pendatang baru. Tentu saja Jumino menikmati sambil merem melek. Maklum, sudah hampir 2 tahun dia tak pernah ngetap olie.

Tapi sial, baru menyelesaikan babak pertama pintu didobrak orang. Buru-buru Jumino kabur lewat pintu belakang tapi sudah langsung ditemu kuwuk (ditangkap) sejumlah pemuda. Sempat digebuki, dia lalu dibawa ke kantor lurah dengan diarak telanjang bulat bersama Sarini. Untung Pak Kades segera memberikan sarung dan baru diserahkan kepada Polsek Sukorejo.

Apes, baru sekali nyosor mineral galonan, langsung digerebek. (BJ/Gunarso TS)