Thursday, 19 October 2017

Jiwa Raga Untuk Negara Prajurit Belum Sejahtera

Jumat, 6 Oktober 2017 — 5:07 WIB

TENTARA Nasional Indonesia (TNI) sudah memasuki usia 72 tahun, sama seperti umur Republik Indonesia. Banyak perubahan yang bisa dirasakan, salah satu di antaranya prajurit semakin dekat dengan masyarakat. Tentara tidak lagi kaku, masyarakat pun tak lagi takut seperti era sebelum reformasi.

Kedekatan TNI dengan masyarakat dibuktikan dengan antusiasme ribuan warga serta tokoh berbagai berbagai elemen, hadir menyaksikan langsung peringatan HUT ke-72 TNI di Dermaga Indah Kiat, Banten, Kamis 5 Oktober 2017. Ini sesuai dengan slogan ‘Bersama Rakyat, TNI Kuat’.

Kemanunggalan TNI dan rakyat, tidak dapat dipisahkan karena tentara lahir dari rakyat. Sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan melahirkan tentara rakyat atau TKR (Tentara Keamanan Rakyat), cikal bakal TNI, pada 5 Oktober 1945. Itu sebabnya prajurit selalu hadir di tengah rakyat dalam kondisi apa pun seperti bencana alam, kecelakaan, serta peristiwa genting lainnya.

Kita juga harus bangga memiliki TNI yang semakin profesional, kuat dan diakui dunia. Lembaga independen militer, Global Fire Power, menempatkan Indonesia pada peringkat 12 di atas Australia, di antara 100 negara lainnya. Sedangkan di Asia Tenggara, Indonesia menduduki peringkat teratas. Di dalam pergaulan internasional, kontingen TNI selalu hadir dalam misi perdamain di negara-negara yang sedang berkonflik seperti di Bosnia, Lebanon, Palestina, Suriah, dan lainnya.

Namun, tuntutan peningkatan profesional TNI tidak dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan prajurit. Menjadi prajurit, memang bukan pilihan yang menjanjikan kemewahan dan kekayaan. Sebagaimana Sapta Marga dan Sumpah Prajurit, jiwa raga TNI hanya didharmabaktikan untuk bangsa dan negara. Prajurit juga diharamkan berbisnis, atau ‘nyambi’ bekerja di tempat lain.

Tentu tidak adil apabila prajurit dan keluarganya tidak boleh sejahtera. Tapi realitas yang ada, kesejahteraan prajurit masih jauh dari harapan. Sebagai gambaran, gaji pokok Tamtama saat ini Rp1,565 juta. Kesejahteraan terdongkrak dari tambahan remunerasi Rp1,108 juta, uang beras dan tunjangan lainnya. Total senilai Rp4,3 juta/bulan diterima Tamtama. Sedangkan gaji pokok perwira tinggi paling besar Rp5,646 juta belum termasuk remunerasi dan tunjangan.
Soal perumahan, sekitar 400 ribu prajurit belum semuanya punya tempat tinggal yang layak.
Tak heran bila ada pesiunan tentara atau keturunannya tetap bertahan di rumah dinas alias asrama. Saat ini TNI membutuhkan sekitar 265 ribu rumah bagi prajurit. Ini PR besar bagi DPR untuk memperjuangkan parajurit, dan tanggungjawab negara menjamin kesejahteraan mereka. Sebagai patriot bangsa, kesejahteraan prajurit harus dipenuhi. **