Wednesday, 13 December 2017

Dipercaya jadi Pamong Desa Malah “Momong” Bini Warga

Sabtu, 7 Oktober 2017 — 6:50 WIB
pamong

DI kampung, jabatan pamong itu cukup bergengsi. Tapi saking bergengsinya, pamong Cepi, 40, berani “momong” istri tetangganya, yang kebetulan juga pamong. Beberapa hari lalu Cepi digerebek sedang berdua-dua di kamar. Iskandar suami Nunung, 35, yang memimpin penggerebekan itu.

Pamong desa itu seperti menteri dalam pemerintahan. Jika Pak Kades adalah presidennya, maka pamong adalah anggota kabinet. Dalam tugasnya dia harus mensukseskan apapun yang menjadi program Pak Kades. Mereka tidak boleh meleng, harus fokus sama tugas masing-masing. Pokoknya, kerja, kerja, kerja…….

Tapi pamong desa Cepi dari Kecamatan Wanasalam Kabupaten Lebak ini memang lain. Dia bukannya meleng, malah milang-miling (baca: mencari-cari) mana warganya yang melek, yang enak digoyang dan perlu. Masih perawan, janda, atau bersuami sekalipun, nggak masalah.

Tapi celaka tiga belas, yang berkenan baginya justru Ny. Nunung yang bini temannya sesama pamong, Iskandar. Sebetulnya di awalnya Cepi tidak enak juga, tapi kata setan, Ny. Nunung ini sungguh enak. “Jadi kalau kamu masih rosa-rosa kayak Mbah Marijan pasti sama-sama enak, Bleh!” kata setan memberi pencereahan ala setan.

Nunung memang cantik, seksi, cuma tak bisa melucu kayak Nunung Srimulat. Justru di sini daya tariknya, karena berarti Nunung adalah wanita serius yang berkebutuhan khusus. Kok khusus, bagaimana penjelasannya? Maksudnya, Nunung siap menerima Cepi di waktu-waktu yang khusus, gitu lho.

Karena sudah ada motif, Cepi memang tidak berani ke rumah sesama anggota kabinet di waktu-waktu biasa. Takut ketemu Iskandar kan jadi berabe, bisa ribut. Padahal presiden sudah bilang, sesama anggota kabinet jangan bikin gaduh. Yang penting kerja, kerja, kerja…………

Nah, di kala Iskandar tidak di rumah, baru dia berani main ke rumah. Di sana keduanya ngobrol ngalor ngidul, dengan perasaan yang mengaru-biru sekaligus deg-degan. Bagaimana nggak deg-degan, jika tahu-tahu Iskandar datang dan terkena OTT kan celaka. Bisa dikandangi langsung di Rutan yang baru. Sedangkan mau praperadilan, jelas Cepi tak punya duit. Maksudanya, tak punya duit beli meterai Rp 6.000,- untuk pemberian surat kuasa.

Tak diketahui jelas, apakah dari koalisi itu sudah berlanjut ke eksekusi di atas ranjang. Yang jelas lama-lama sering hadirnya Cepi itu menjadi rahasia umum warga. Hanya mereka diam saja, karena yang nyatroni Nunung adalah sesama anggota kabinet.

Ketika sudah menjadi rahasia umum, akhirnya skandal Nunung ini sampai juga ke telinga suami. Tentu saja marahlah si Iskandar. Diam-diam dia ingin menjebaknya. Beberapa hari lalu dia bilang mau ke luar kota, tapi sesungguhnya malah ngumpet di rumah tetangga.

Benar juga malam itu Cepi masuk ke rumah Nunung. Begitu dia masuk ke kamar, warga pun bergerak, mengontak Iskandar. Beberapa menit kemudian terjadilah penggerebekan itu. Dengan mata kepala sendiri Iskandar melihat istrinya duduk berdua-dua di ranjang dalam kamar. Mereka memang sekedar duduk-duduk, tapi jika tanpa ada maksud lain, ngapain di dalam kamar, wong ruang tamu juga ada tempat duduk.

Persoalan ini kemudian diselesaikan oleh Pak Kades, meski sebelumnaya Cepi sempat juga dianiaya warga. Kata Pak Kades, kejadian itu hanya akibat salah paham saja. Kata Cepi, dia sengaja berembug dalam kamar, karena masalah rahasia untuk bisnis.

Bagaimana nggak salah paham, wong belum ada nota kesepahaman. (JPNN/Gunarso TS)