Thursday, 14 December 2017

Gencarkan OTT Penebar Sampah

Selasa, 10 Oktober 2017 — 5:02 WIB

KEBIASAAN buang sampah sembarangan, mencerminkan potret betapa rendahnya mental disiplin sebagian warga. Sampah bertebaran bukan pada tempatnya, seperti di tepi jalan, di selokan serta di sungai menjadi pemandangan buruh sehari-hari.

Jangan heran bila ada wisatawan asing yang geleng-geleng kepala heran, bahkan memotret pemandangan ‘lautan’ sampah di kali. Realitanya memang masih banyak warga yang tidak peduli dengan kebersihan lingkungan. Orang berpendidikan sekalipun, atau warga dari kalangan mampu, tak sedikit yang melempar sampah seenaknya dari dalam mobil, atau dari jendela ruko langsung meluncur ke selokan.

Berton-ton sampah yang mengotori sungai dan selokan, bukan hanya membuat kota terlihat kumuh, tapi juga memicu banjir. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, telah lama menggencarkan kampanye bersih lingkungan. Di berbagai sudut kota hingga ke gang-gang, terpasang spanduk ‘buang sampah sembarangan didenda Rp500 ribu’. Denda yang dikenakan bagi pelaku beragam, Rp500 ribu bagi individu sedangkan bagi perusahaan Rp10 juta. Mereka dijerat dengan Perda Nomor 3 Tahun 2013.

Tak mempan dengan hanya spanduk, OTT pun digencarkan. Law enforcement penegakan hukum bagi penebar sampah cukup ampuh karena tidak sedikit warga ‘nakal’ yang kena OTT dan harus menjalani sidang tipiring (tindak pidana ringan). Tahun 2016 Dinas Lingkungan Hidup dan Ketamanan (LHK) DKI mencatat, lebih dari 1.000 warga dikenakan sanksi, sedangkan uang denda yang terkumpul mencapai Rp701 juta.

Tahun ini jumlah pelanggaran memang menurun, tetapi tetap saja tinggi. Sampai September 2017, tercatat 700 warga kena OTT, sedangkan uang denda yang terkumpul mencapai Rp61 juta.
Pelanggar yang terpergok, mayoritas membuang sampah di kali. Sedangkan di lingkungan permukiman, warga membuang sampah ke selokan tidak terpantau atau memang dibiarkan saja.

Menjadikan Ibukota bersih, butuh kerja keras. Memasang spanduk larangan buang sampah sembarangan, adalah imbauan simpatik pada warga. Sayangnya, sikap cuek warga membuat spanduk tersebut hanya pajangan. Tak sedikit ditemukan, di dekat spanduk peringatan tersebut, justru terlihat sampah berceceran.

Mengubah dan mental sembrono menjadi warga yang sadar akan kebersihan lingkungan, tampaknya masih harus melalui aturan yang sifatnya memaksa. Tim buser sampah dituntut lebih giat lagi melakukan sweping. Libatkan juga RT/RW memantau lingkungan yang menjadi tanggung jawab mereka. Sanksi semestinya jangan hanya dikenakan bagi warga bantaran kali, pemillik rumah juga harus dijerat hukum bila di selokan depan tempat tinggalnya banyak sampah. Membuat kota menjadi kinclong, perlu langkah tegas. **