Thursday, 23 November 2017

Jalani Sidang Perdana, Aa Gatot: Saya Tidak Mengerti

Selasa, 10 Oktober 2017 — 17:37 WIB
Gatot Brajamusti di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (julian)

Gatot Brajamusti di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (julian)

JAKARTA (Pos Kota) – Aktor dan penyanyi Gatot Brajamusti atau biasa disapa Aa Gatot menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Jalan Ampera Raya, Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (10/10/2017).

Dalam sidang ini, Aa Gatot dikenakan dua dakwaan sekaligus, yitu dugaan kepemilikan satwa lindung dan kepemilikan senjata api ilegal.
“Dengan sengaja dan melawan hukum menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup,” kata Jaksa Hadiman, membacakan dakwaan kesatu primair terhadap terdakwa Aa Gatot dalam persidangan di ruang sidang utama Prof H Oemar Seno Adji.

Selanjutnya, “tanpa hak, menguasai, membawa, menyimpan, menyembunyikan senjata api dan amunisi,” ujar Jaksa Hadiman membacakan dakwaan kedua primair untuk Aa Gatot.

Terkait dugaan kepemilikan satwa lindung, jaksa dari Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta itu juga menyertakan dakwaan subsidair, yaitu dengan sengaja dan melawan hukum menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati.

Jaksa memaparkan, berdasarkan keterangan sejumlah saksi Aa Gatot memiliki dan menyimpan dua ekor satwa yang dilindungi di rumahnya, di Jalan Niaga Hijau X, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. “Berdasarkan keterangan saksi Teguh Prayitno selaku PNS di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi DKI Jakarta bahwa penyidik Polda Metro Jaya telah memperlihatkan kepadanya satu ekor burung elang yang masih hidup dan satu ekor harimau sudah mati atau offset yang telah diawetkan, menurut pengamatan saksi bahwa satwa tersebut satwa yang dilindungi,” papar Jaksa Hadiman membacakan keterangan salah satu saksi.

Untuk itu, mantan Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) itu dijerat Pasal 21 ayat (2) huruf a dan b jo Pasal 40 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Ancaman hukumannya paling lama lima tahun dan denda maksimal Rp100 juta.

Selain itu, menyangkut dakwaan kedua, suami siri Reza Artamevia itu pun dikenakan dakwaan subsider, yakni tanpa hak menguasai, membawa, menyimpan, menyembunyikan senjata penikam, senjata pemukul, dan amunisi.

Atas perbuatan yang diduga dilakukannya itu ia dikenakan Pasal 1 dan 2 ayat (1) Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 Tentang Kepemilikan Senjata Tajam. Pelanggar pasal ini diancam dengan hukuman mati atau penjara selama 20 tahun.

Aa Gatot sempat mengatakan tidak mengerti dan menepis beberapa tuduhan yang disampaikan dalam dakwaan yang dibacakan jaksa. “Saya tidak mengerti, Yang Mulia. Karena saya tidak seperti itu,” tepisnya.

Namun, setelah diterangkan oleh Ketua Majelis Hakim Achmad Guntur, bahwa bantahannya itu dapat disampaikan dalam sidang-sidang selanjutnya, Gatot menyatakan memahami. Ia pun siap mengikuti sidang lanjutan dengan agenda pembacaan eksepsi pada Selasa pekan depan. (julian/yp)