Wednesday, 13 December 2017

Uap Macet Itu Mahal!

Selasa, 10 Oktober 2017 — 7:10 WIB
macet

MACET ? Kan sudah biasa, Bung? Bagi warga di kota-kota besar, terutama ibukota dan sekitarnya, macet mah itu biasa. Dari Senin sampai Jumat, jelas hari kerja, ya macet. Eh, Sabtu-Minggu, itu kan hari libur? Oh, ternyata warga juga bepergian mengisi berbagai acara liburan, arisan, kodangan dsb?

“Hem, gara-gara Jakarta macet setahun kehilangan uang Rp67 trilun. Itu uang yang dibelikan bahan bakar, menguap ke udara,” ujar seorang sahabat Bang Jalil, yang seperti biasa rajin membuang pulsa HP-nya demi mengeluarkan unek-unek.”

Bayangkan saja, kita membuang dana sebegitu besar. Kenapa sih ya nggak mau naik angkutan umum? Kan bisa ngirit ongkos, kok malah buang bensin sia-sia.”

Bang Jalil, diam saja. Toh, dia juga temasuk yang kena korban macet. Dan pastinya, dia juga termasuk yang ‘menyumbang’ sekian rupiah penguapan bensin. Ya, apa boleh buat?

“Bapak kena macet juga, ya?” tanya sang istri, sambil menyiapkan kopi.” Nggak apa-apa macet, kan sudah biasa ya, Pak. Yang, penting Bapak hati-hati di jalan, karena berkendara di waktu macet itu banyak banget godaan, terutama gampang marah, naik pitam!”

“Ibu juga nggak marah, kan kalau Bapak terlambat pulang?” iseng Bang Jalil bertanya.

“Iya, nggak dong. Tapi, kalau macet buat alasan terus, ya bisa marah juga, sih. Alapagi Bapak tahu-tahunya mampir ke tukang kopi lendot?” kata si istri sengit, dan katanya lagi,
“Udeh terserah, mau macet kek, yang penting uang belanja Ibu nggak macet!”

Bang Jalil tersenyum, kecut. -massoes