Wednesday, 13 December 2017

Karangan Bunga Membanjir Justru Saat Jabatan Berakhir

Rabu, 11 Oktober 2017 — 6:45 WIB
karangan

KARANGAN bunga untuk pejabat biasanya berdatangan ketika dia mau dilantik. Tapi Djarot Saiful Hidayat justru lain. Dia banjir karangan bunga justru ketika jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta akan berakhir 15 Oktober mendatang. Sejak beberapa hari lalu karangan bunga untuk Djarot-Ahok pendahulunya datang silih berganti ke Balaikota.

Karangan bunga adalah bentuk penghormatan. Ketika seseorang meninggal, ucapan duka cita dihadirkan dalam bentuk karangan bunga. Pejabat yang mau menduduki kekuasaan barunya juga banjir karangan bunga.

Ini ada dua motif. Yang pertama, sebagai bentuk penghormatan. Yang kedua bisa juga bentuk cari muka atau pendekatan, cari peluang siapa nanti oleh pejabat ini dapat proyek.

Tapi yang terjadi atas Djarot sungguh lain. Karangan bunga justru membanjir ketika jabatan mau berakhir. Tak salah kiranya disebutkan, karangan bunga itu sebagai tanda bahwa banyak warga DKI meratapi kepergiannya.

Tanggal 15 Oktober mendatang, jabatan Gubernur Djarot selesai. Dia akan kembali sebagai orang biasa, setelah menjadi Gubernur DKI Jakarta menggantikan Ahok yang masuk penjara. Tapi diakui atau tidak, bersama Jokowi-Ahok-Jarot, Jakarta berhasil menjadi yang seperti sekarang ini.

Meski terkesan seperti Sangkuriang, Gubernur Djarot berusaha menyelesaikan segala PR-nya hingga 15 Oktober. Bahkan kadang terasa aneh, bikin kebijakan yang tak ada jaminan akan dipertahankan penggantinya mulai 16 Oktober mendatang.

Orang sebetulnya puas akan kinerja Ahok-Djarot. Sayangnya, sang gubernur tidak seiman dengan mayoritas warga DKI Jakarta. Akibatnya banyak yang tidak rela mereka memperpanjang masa jabatannya. Selamat Jalan Pak Djarot, di tempat pengabdian yang baru. –slontrot