Friday, 20 October 2017

Tampang Ndeso Rejeki Kota Perbanyak Istri Siapa Takut?

Rabu, 11 Oktober 2017 — 7:30 WIB
poligami

BAGI lelaki macam Kusbini, 51, seks itu menjadi panglima. Andaikan Islam mengizinkan bini lebih dari 4, dia akan koleksi sebanyak-banyaknya. Seperti juragan ayam bakar Wong Solo, Kusbini juga berprinsip: banyak istri banyak rejeki. Biar tampang ndeso, kebetulan rejeki melimpah, sehingga hobinya lancar jaya.

Sebetulnya lelaki itu seperti ayam jago. Jika agama dan hukum negara mengizinkan, setiap wanita cantik maunya digauli. Tapi karena terkendala oleh dana dan hukum agama, banyak lelaki yang trima mbojo siji (cukup berisi satu). Sebab surat Anissa ayat 3 mengingatkan: boleh berbini 2 sampai 4, jika mampu. Jika tidak sebaiknya beristri satu saja.

Kusbini warga Manukan Lor, Surabaya, termasuk lelaki yang suka memanjakan “manuk” miliknya itu. Tapi dia memang sembada (konsekuen). Dia berani berbini 4 dalam arti mampu dari sisi kekayaan, juga mampu dalam berkeadilan bagi ke-4 itrinya. Padahal orang lain kebanyakan, berpoligami malah terjebak menjadi pengikut aliran kebatinan. Maksudnya, para bininya hanya kenyang diberi nafkah batin.

Secara anatomi, penampilan Kusbini sebetulnya pas-pasan saja, jika tak mau disebut tampang ndeso. Tidak ganteng, tidak tinggi besar. Bahkan dia mengakui, lebih jelek dari Tukul Arwana. Tapi soal kekayaan, meski tak pernah mengisi LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara), di kawasan Manukan bisa diperhitungkan. Wanita cap apun pasti mau dipersuntingnya. Sebab jadi bini Kusbini benar-benar dalam keseharian hanya mamah karo mlumah.

Sekarang ini istri Kusbini baru tiga. Dalam waktu dekat ini akan menyempurnakan menjadi empat seperti syariah agama. Yang diincarnya adalah Atikah, janda muda usia 30 tahunan. Soal kecantikannya tak usah diragukan lagi. Yang penting, dia juga siap berbagi cinta pada madu-madu para pendahulunya.

Istri ke-1 hingga ke-3 memang ridla saja suaminya pentalitan cari bini baru. Sebab Kusbini sangat adil pada istri-istrinya. Semua diberi rumah satu-satu, termasuk juga kendaraan. Bahkan bagi para istri Kusbini, hadirnya madu baru justru dimaknai sebagai teman aplusan. Sebab nafsu suaminya ini memang tinggi sekali. Jika sudah ingin tak bisa ditolak. Nah, dengan ada istri baru kan bisa diatur ada sift malam sift siang.

Kusbini bisa kaya raya karena meneruskan usaha almarhum ayahnya, dalam bidang perkayuan dan pertanahan. Dia pilih beristri banyak juga karena belajar pengalaman dari ayahnya. Ketika ibu Kusbini meninggal saat dirinya usia 10 tahun, sang ayah tidak mau kawin lagi, tapi hobinya “jajan” ke mana-mana. Kalau sekedar jajan sate gule dan lontong balap, paling resikonya kenyang. Kalau jajan wanita, bisa terkena penyakit kelamin.

Ayah Kusbini pada akkirnya meninggal karena penyakit kotor. Nah karena tak mau bernasib buruk seperti sang ayah, Kusbini memilih poligami saja sampai 4 orang. Biar saja orang lain nyinyir mengolok-olok, itu kan tanda mereka tak mampu meniru jejaknya. Katanya poligami itu hanya memanjakan syahwat, tapi kan ada juga unsur pemerataan.

Burung hanya satu, tapi menjadi milik bersama. (JPNN/Gunarso TS)