Tuesday, 12 December 2017

Festival Bedol Bendungan Warnai HUT Kabupaten Serang

Kamis, 12 Oktober 2017 — 8:22 WIB
Festival Bedol Bendungan

SERANG (Pos Kota) – Dalam memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke- 891, Pemerintah Kabupaten Serang adakan Festival Bedolan Pamarayan hingga 15 Oktober 2017 mendatang.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, bedol bendungan Pamarayan ini diisi dengan berbagai acara menarik, diantaranya festifal rakyat, panjat pinang, lomba gangsing, lomba egrang, lomba bakiak. Kemudian, ada jalan sehat, pentas seni pencak silat, debus dan wayang golek.

“Bedolan itu berarti mengeringkan saluran air untuk pemeliharaan. Mungkin saja ada semen yang retak, ada pasangan batu yang keropos,” Kata Ketua Yayasan Bhakti Banten, Maftuh Ali.

Kata dia, bendungan ini sebulan penuh dibedol airnya. Mulai dari dam sampai ke kanal-kanal puluhan kilo meter dilakukan pemeliharaan supaya bisa difungsikan keadaannya.

“Dibedol airnya, supaya ada kesempatan pemeliharaan bangunan bendungan, alirannya, kanal dan sarana prasarana yang sub tersier dari dam itu,” tuturnya.

Hal menarik dari tradisi bedolan pamarayan ini, masyarakat gembira dan antusias, rupanya akan banyak ikan yang didapat. Berduyun-duyun, rakyat mengambil ikan-ikan itu sebagai bentuk pesta rakyat.

Penulis buku Penelusuran Naskah dan Arsip Bangunan Cagar Budaya Banten ini mengatakan sejarah bendungan Pamarayan ia tulis di bab enam. Singkat Maftuh menceritakan, dulu sekali, Banten dari sisi hasil pertanian tidak efektif dan kurang bagus. Apalagi sejak terjadi kemarau panjang dan kelaparan yang ditambah dengan peristiwa geger Cilegon, memperparah kehidupan rakyat Banten. Kemudian (rakyat-red) menekan pemerintah kolonial Belanda untuk segera mewujudkan politik etis. Diantaranya, irigasi edukasi dan transmigrasi.

“Irigasi itu dibuat bendungan yang bisa mengairi sawah. Tadinya digarap setahun sekali, terutama di wilayah sekitar sungai ciujung digarap tiga kali setahun setelah dibangun dam,” ucapnya.

Dalam rapat parlemen diputuskan di kementrian pertanian dan disetujui oleh parlemen, sehingga dimulailah pembangunan dam Pamarayan tahun 1905.

Dikatakan dosen UIN Banten ini, pembangunan dimulai setelah pembuatan jalan rel kereta api dari Rangkasbitung sampai Anyer Lor (Merak-red) itu rampung.
“Cara mengambil batu dan material lainnya dengan kereta api. Batu didatangkan dari bukit cerlang di Anyer Lor,” ungkapnya.

Batu itu diangkut puluhan ribu ton ke Pamarayan. Jalur ke Rangkasbitung ke Anyer Lor sangat jauh. Kemudian, pemerintah kolonial Belanda membuat sub rel dari stasiun Catang ke lokasi Bendungan Pamarayan.

Pada 1925 dinyatakan dam utama selesai, mulai dibuat saluran irigasi induk kiri dan kanan. Pembangunan bendungan itu telah menghabiskan dana 5 juta gulden lebih dan 200.000 tenaga kerja.
“Kurun 20 tahun itu, kanal kiri bendungan Pamarayan Lama sampai ke Kramatwatu Bojonegara dan daerah Ciruas,” ucapnya lagi.

Saluran induk kanan jaraknya sampai menembus Tirtyasa dan seterusnya. Akhirnya, pada waktu itu sekitar 27.000 hektare sawah dapat ditanami sepanjang tahun, otomatis meningkatkan produktifitas padi. Bendungan Pamarayan ini, bahkan dianggap sebagai dam terbesar di indonesia, sebelum waduk saguling dibangun.

“Pemerintah Gubernur Belanda pada waktu itu datang ke bendungan. Soekarno pada 1951 juga pernah mengunjungi Pamarayan,” tukasnya.
(haryono/sir)