Tuesday, 17 October 2017

Kawin Sampai Berulangkali Modalnya Aliran Kebatinan

Kamis, 12 Oktober 2017 — 7:02 WIB
tang

SIGIT, 60, memang ganteng. Tapi sebagai seniman tanggung, dari masa ke masa ekonominya pas-pasan terus. Menikah 5 kali, 5 kali pula diusir istri. Sebab istri cap apapun takkan sudi jika keluarga hanya dibangun dengan “aliaran kebatinan”, yakni hanya diberi nafkah batin setiap malam.

Di era gombalisasi seperti sekarang ini, ketika filosofi wanita bergeser jadi “witing tresna merga atusan lima” (baca: materialistis), lelaki hanya modal tampang saja, takkan laku di pasaran. Mending suami jelek seperti mercon bantingan, tapi pinter mencari uang, sehingga bini di rumah cukup mamah dan mlumah.

Sigit yang berasal dari Wonogiri (Jateng) termasuk lelaki mujur. Dengan tampang lumayan ganteng, dia begitu mudah menaklukkan wanita. Baru usia 25 tahun waktu itu, di Baturetno dia sudah digila-gilai gadis tetangganya. Jadilah keduanya menikah. Tapi meski sudah punya istri, Sigit tak juga mencari kerja. Lama-lama istrinya bosan, dan Sigit disuruh pergi dari kompleks Mertua Permai.

Mulailah Sigit merantau ke Jakarta. Dengan modal ijazah SMP sebetulnya cari kerja di pabrik masih gampang. Tapi dia tidak mau. Mending ikut grup karawitan Jawa, ditanggap ke sana kemari dapat uang. Sigit memang mahir memainkan gamelan. Setiap bulan bagus, dia pasti diajak ikut main oleh grup karawitan

Ada cewek Ciganjur yang terpikat akan ketampanan Sigit, sehingga menikahlah mereka. Tapi karena penghasilan tidak menentu, sang istri tentu saja tidak tahan jika hanya diberi nafkah batin melulu. Sigit pun ditendang, meski sudah punya anak beberapa biji. Tapi Sigit santai-santai saja menjalani hidup. Ketika mulai musim campursarinan, dia banting stir ikut musik campursari.

Karena ketampanannya, meski duda miskin masih ada saja perempuan yang mau ngukup (ambil) jadi suaminya. Tapi ternyata Sigit tetap tak mau kerja yang bener. Bahkan saking miskinnya, bila diberi baju atau celana baru dari rekanan, diam-diam dijual lagi untuk dibelikan beras. Nah, begitu selalu, sang istri pun lalu mengusirnya.

Sial melulu di Ibukota, Sigit pilih kembali ke kampung. Kasihan anak lelakinya kedinginan setiap malam, lalu dinikahkan dengan gadis yang agak kenthir (gila). Sigit mau saja, wong sekedar buat “tamba anget”. Tapi karena tetap tak mau kerja, justru mertuanya yang mengusir si mantu. “Jaman sekarang modal “aliran kebatinan” buat apa” keluh sang mertua.

Meski masih nampak sisa-sisa kegantengannya, dalam usia kepala enam Sigit mulai susah cari bini baru. Kembali dia mencari pasar ke Ibukota. Ee, dasar milik, dia kenal wanita cantik di daerah Parung, namanya Entin, 40. Bila ada cacat, dia masih istri orang. Tapi karena sudah kesengsem, apa lagi sudah lama tidak “ngetap olie”, ketika suami Entin tak di rumah, datanglah dia menyatroni. Benar kata orang, Entin biar Setengah Tuwa Ning Kepenak (STNK).

Tapi sial, sekali waktu pas dia kelonan dengan Entin, kepergok suaminya belum lama ini. Kontan Sigit dihajar sampai gigi depannya rontok. Karena si duda malang ini sudah ampun-ampun minta maaf, akhirnya oleh pengurus RT didamaikan saja, apalagi suami Entin juga bisa memaafkan. Tapi sejak itu, Sigit jika tertawa seperti trowongan KA Kampung Melayu, karena pasang gigi palsu saja tidak mampu.

Apalagi sekarang ada proyek, Kampung Melayu makin parah macetnya. (SR/Gunarso TS)