Friday, 21 September 2018

Gotong-royong, Okelah!

Sabtu, 14 Oktober 2017 — 5:45 WIB
bagiangue

GOTONG-royong adalah satu dari filosofi bangsa Indonesia dalam melakukan kerja sama, yang lahir sejak dulu kala. Artinya, kita sudah paham semua. Yakni satu pekerjaan yang dilakukan secara bersama-sama. Ringan sama di jinjing, berat sama-sam dipikul.

Biasanya, jika pekerjaan itu dilakukan warga, terutama di kampung-kampung, peduduk membangun rumah dikerjakan secara gotong royong. Membangun tempat ibadah, masjid, jalan, dsb. Bukan saja tenaga yang sumbangkan bisa juga materi, bata, pasir, semen, kayu genteng dan lain sebagainya. Tapi, yang material ini, ingat jangan lupa jika si penyumbang nanti membangun punya hak menerima barang yang sama.

Dulu juga punya Kabinet ‘Gotong royong’. Cantiklah. Begitulah goyong royong. Kalau itu dilakukan untuk hal yang bagus, demi kepentingan umum, tentu okelah! Tapi, kalau gotong royong dalam hal kejahatan, seperti merampok, korupsi? Hemm, tidak cantiklah!

Tapi, ternyata kejahatan gotong royong korupsi, belakangan ini dilakukan oleh beberapa kelompok. Para sejawat, anggota DPR/DPRD, gubernur, walikota, bupati pada saling sambung menyambung korupsi.

Suami pejabat, istrinya ikutan korupsi. Oknum gubernur korup, eh adiknya si gubernur ikutan menjarah. Nah, ibunya jadi pejabat bupati, eh anaknya juga ikut membantu korupsi. Ya, kalau atasan dan bawahan korupsi, itu mah sudah nggak terhitung? Inilah gotong royong yang nggak sangat diridoi. Percaya, deh!

Jadi bahwa filosofi gotong royong yang diharpkan nenek moyang adalah, kerja sama dalam kebaikan, bukan kejahatan! Begitu, Bapak dan Ibu? – massoes